Share

92. NASKAH TANPA PENULIS

Penulis: Aleena Tan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-25 09:54:23

Dunia tidak berakhir dengan ledakan besar, melainkan dengan suara kertas yang disobek secara paksa dari jahitan realitas. Jantung Asal, yang tadinya merupakan tempat paling suci di seluruh multiverse, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pembusukan eksistensi.

Langit yang tadinya jernih kini dipenuhi retakan hitam yang mengeluarkan suara mendesis, seolah-olah ada ribuan serangga tak kasat mata yang sedang memakan ruang dan waktu.

Kael Astaroth berdiri di tengah kekacauan itu denga

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   92. NASKAH TANPA PENULIS

    Dunia tidak berakhir dengan ledakan besar, melainkan dengan suara kertas yang disobek secara paksa dari jahitan realitas. Jantung Asal, yang tadinya merupakan tempat paling suci di seluruh multiverse, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pembusukan eksistensi.Langit yang tadinya jernih kini dipenuhi retakan hitam yang mengeluarkan suara mendesis, seolah-olah ada ribuan serangga tak kasat mata yang sedang memakan ruang dan waktu.Kael Astaroth berdiri di tengah kekacauan itu dengan Pena perak di tangan kanannya. Pena itu tidak terasa berat, namun getarannya mampu mengguncang fondasi jiwanya.Setiap kali Pena itu berdenyut, Kael bisa melihat jutaan baris kode narasi yang membentuk partikel udara di sekitarnya. Ia bukan lagi sekadar penonton, ia adalah pemegang alat pembuat hukum."Kael, lihat!" Lyra menunjuk ke arah cakrawala yang mulai menghilang ke dalam kegelapan total."Tanpa para Dewa Penulis untuk menjaga naskah tetap berjalan, struktur dunia in

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   91. NASKAH BERDARAH SANG PENCIPTA

    Langit emas di atas Jantung Asal meledak bukan karena cahaya matahari, melainkan karena jeritan ketakutan dari entitas yang mengaku sebagai tuhan. Darah emas yang kental menetes dari singgasana ketujuh yang kini kosong, membasahi awan-awan realitas dengan aroma besi yang menyengat.Kael Astaroth berdiri di tengah kekacauan itu, pedangnya masih meneteskan sisa-sisa jiwa Dewa Penulis yang baru saja ia bantai. Matanya yang ungu kini memancarkan aura kegilaan yang tenang, sebuah kontradiksi yang mampu membekukan aliran darah siapapun yang melihatnya."Siapa lagi?" tanya Kael, suaranya pelan namun bergema di setiap sudut multiverse seolah-olah dia sedang berbicara langsung ke dalam gendang telinga para dewa itu.Dewa Penulis pemimpin, yang dikenal sebagai Arshaka, gemetar hingga buku emas di tangannya hampir terjatuh. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi dengan urat-urat kemarahan dan ketakutan."Kael Astaroth! Kau telah merusak keseimbangan abadi! Jika kami mati, seluruh naskah keh

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   90. PEMBERONTAKAN KARAKTER UTAMA

    Suara gerigi takdir yang macet terdengar lebih memilukan daripada jeritan ribuan jiwa yang tersiksa. Di bawah tekanan Segel Penghapusan Global, setiap sendi tubuh Kael Astaroth mengeluarkan bunyi retakan yang mengerikan.Seolah-olah realitas itu sendiri sedang berusaha melipat tubuhnya menjadi ketiadaan. Cahaya emas dari langit bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan beban fisik seberat jutaan galaksi yang dijatuhkan tepat di atas pundaknya.Lyra, yang mendekapnya dari belakang, mulai mengeluarkan cahaya putih pucat, pertanda bahwa inti kristal semestanya sedang dipaksa bekerja melampaui batas untuk melindungi sang suami."Kau merasa berat, Kael?" Suara Dewa Penulis yang duduk di singgasana terjauh bergema, nadanya penuh dengan ejekan yang halus."Itu bukan sekadar energi. Itu adalah berat dari semua naskah yang gagal kau jalani. Itu adalah berat dari miliaran karakter lain yang harus mati agar kau bisa menjadi pemeran utama. Kau hanyalah tumpukan mayat yang kami beri nama."Kael te

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   89. VONIS SANG EDITOR AGUNG

    Cermin itu tidak memantulkan cahaya, melainkan memantulkan kegagalan. Di dalam wajah retak entitas raksasa itu, Kael melihat ribuan versi dirinya yang mati mengenaskan, ada Kael yang terbunuh oleh pengkhianatan Valerius di masa muda, Kael yang gagal menyelamatkan Lyra, hingga Kael yang jiwanya hancur saat mencoba menyentuh Jantung Asal.Ini bukan sekadar ilusi, melainkan draf gagal dari sejarah yang dikumpulkan oleh Kehampaan. Utusan itu berdiri dengan keangkuhan yang melampaui konsep ruang, memancarkan aura abu-abu yang membuat warna-warna di Jantung Asal mulai memudar."Kael Astaroth, lihatlah makammu yang tak terhitung jumlahnya." Suara dari utusan itu meledak, bukan melalui telinga, melainkan langsung ke dalam pusat kesadaran."Eksistensimu saat ini adalah sebuah kelainan. Kau adalah kata yang salah tulis dalam buku besar penciptaan. Dan aku di sini untuk menghapusnya."Kael tetap berdiri tenang, meskipun tekanan dari wajah cermin itu sanggup meremukkan tulang seorang Kultivator T

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   88. GEMA DARI KEHAMPAAN

    Langit Jantung Asal yang seharusnya menjadi fondasi kedamaian mendadak memekik ngeri, merobek dirinya sendiri menjadi lubang hitam yang tak berujung. Bukan karena ledakan energi, melainkan karena realitas di tempat itu menolak keberadaan Kael Astaroth yang terlalu kuat.Seolah-olah sebuah botol kaca dipaksa menampung seluruh air di samudra, dimensi tersebut mulai retak, mengeluarkan suara dentuman yang sanggup menghancurkan gendang telinga Dewa sekalipun.Kael tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap memeluk Lyra, membiarkan jubah cahayanya menjadi perisai mutlak yang menelan semua distorsi ruang di sekitar mereka. Tangannya yang hangat mengusap rambut Lyra, mencoba menenangkan istrinya yang masih gemetar hebat.Di mata Kael, dunia ini tidak lagi terlihat seperti materi padat, melainkan jutaan baris kode dan simbol naskah yang mengalir deras. Ia bisa melihat setiap detak jantung makhluk hidup di benua bawah, setiap aliran sungai, hingga setiap pikiran jahat yang masih bersembunyi di luban

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   87. KEBANGKITAN SANG PENGUASA HUKUM

    Suara retakan itu bukan berasal dari lantai kristal yang dipijak Valerius. Melainkan dari dalam kedalaman jiwa Lyra yang sedang dikuliti hidup-hidup oleh rantai hitam naskah terlarang.Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun penyiksaan, di mana benang-benang memori tentang Kael ditarik paksa keluar, meninggalkan lubang-lubang kosong yang dingin di dalam batinnya.Lyra menatap wajah Valerius yang menyeringai, namun anehnya, ia mulai lupa mengapa ia begitu membenci pria di depannya. Ia mulai lupa mengapa ia berdiri di tempat ini. Bahkan, nama pria berambut putih yang selama ini ia puja mulai terasa asing di lidahnya."Menyerahlah, gadis kecil. Semakin kau melawan, semakin hancur jiwamu," desis Valerius sembari mempererat cengkeraman energinya pada naskah kulit manusia di tangannya."Kebebasan yang diberikan Kael hanyalah ilusi singkat. Di bawah pemerintahanku, manusia tidak butuh memori. Mereka hanya butuh kepatuhan."Lyra terbatuk darah, tetesan emasnya jatuh menimpa lantai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status