Udara di dalam villa mewah itu mendadak terasa lebih dingin daripada hembusan angin laut di luar. Arya berdiri mematung di dekat meja rias, jemarinya menggenggam sebuah kancing perak kecil yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Matanya yang tajam, yang biasanya memancarkan kehangatan untuk Sonya, kini menyipit penuh selidik. Di hadapannya, Sonya masih berdiri mematung, tangannya yang memegang sisir tampak sedikit gemetar."Sonya, aku tanya sekali lagi," suara Arya rendah, namun setiap kata yang keluar terasa seperti hantaman godam. "Apa Dave masuk ke kamar ini tadi pagi saat aku ke kantor?"Sonya menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia teringat kejadian di dermaga—sentuhan Dave, desahan yang hampir lepas, dan bagaimana mereka hampir saja melewati batas. Namun, kancing itu? Bagaimana bisa ada di sini?"Ar... kamu bicara apa sih? Tadi pagi kan aku bilang Jessy pingsan. Mungkin D
Read more