"Aku tahu, Sonya. Tapi bagaimanapun, Sita adalah orang yang pernah jadi bagian hidupku. Bukan berarti aku masih punya perasaan, tapi aku tidak ingin ada urusan yang menggantung. Kalau aku tidak menemuinya, dia mungkin akan terus datang ke rumah ini dan mengganggu ketenangan kita," jelas Arya lembut, mencoba meredakan ketegangan Sonya.Sonya berdiri, berjalan mendekati Arya, dan melingkarkan lengannya di leher suaminya. "Pergilah. Temui dia. Tapi ingat, Ar, aku sudah memberikan segalanya untukmu semalam. Tubuhku, perusahaanku, bahkan restu Papaku. Jangan biarkan air mata wanita dari masa lalu itu menghapus apa yang sudah kita bangun.""Aku janji, Sayang. Bagiku, masa lalu adalah pelajaran, dan kamu adalah masa depanku," ucap Arya sambil mengecup tangan Sonya.***Pukul 16.00 WIB, Arya tiba di Cafe Merah. Di pojok ruangan, ia melihat seorang wanita cantik dengan pakaian yang cukup modis namun terlihat agak lusuh jika diperhatikan lebih dekat. Itu Sita. Waja
Read more