Keheningan di dalam kamar apartemen itu terasa begitu mencekik. Arya berdiri mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinga, sementara matanya terpaku pada celah lemari tempat Sonya bersembunyi. Di belakangnya, Dave tampak gelisah, sesekali melirik jam tangan mewahnya, sementara Cindy masih berpura-pura merapikan lingerie transparannya dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat."Dua puluh menit, Arya. Waktumu terus berjalan," suara Reza di telepon terdengar seperti desis ular yang siap mematuk. "Pilih istrimu yang sudah datang merangkak ke apartemen pria lain ini, atau selamatkan adik iparmu yang malang di Cipete. Ingat, Jessy tidak tahu apa-apa tentang dosa suaminya."Arya memutuskan sambungan telepon dengan tangan gemetar. Amarah, kekecewaan, dan rasa tanggung jawab beradu di dalam dadanya. Ia melangkah perlahan menuju lemari pakaian besar itu. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada beban ribuan ton yang menahan kakinya."Sonya... keluar," uc
더 보기