Sore yang gerah di kawasan Kuningan perlahan berganti menjadi malam yang basah karena rintik hujan mulai membasahi jendela apartemen Cindy. Di dalam kamar yang masih berantakan, aroma keringat dan gairah masih tertinggal pekat di udara. Cindy berbaring dengan posisi miring, kepalanya bersandar di lengan kekar Bobi yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Rambut Cindy yang biasanya tertata rapi kini acak-adukan, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa."Gila ya kamu, Bob... Aku pikir kamu cuma modal tampan sama pinter ngomong doang, ternyata tenagamu kayak mesin," bisik Cindy sambil memainkan jemarinya di dada Bobi.Bobi terkekeh, ia mengambil sebatang rokok dari meja nakas dan menyalakannya. "Kan sudah aku bilang, aku nggak pernah setengah-setengah kalau soal memuaskan wanita. Apalagi wanita sepintar dan seberani kamu, Cin."Cindy tersenyum manja, ia mencium bahu Bobi sebelum akhirnya teringat akan kesepakatan mereka di sofa tadi. "Oke, karena kamu
Read more