Laju mobil SUV hitam yang dikendarai Arya membelah kemacetan sore Jakarta dengan beringas. Sirine pengawal meraung, memaksa kendaraan lain menepi, namun bagi Arya, kecepatan ini masih terasa seperti siput. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mencengkeram erat gagang pintu mobil hingga buku-bukunya memutih. Di telinganya masih terngiang suara panik Pak Dirman tentang serangan Bobi di Kemang."Lebih cepat lagi, Pak! Terobos saja!" perintah Arya pada sopirnya dengan suara parau yang sarat akan kemarahan."Siap, Pak Arya!"Arya segera menghubungi ponsel Pak Baskoro, namun tidak ada jawaban. Ia kemudian beralih menghubungi ponsel Sonya. Setelah nada sambung ketiga, suara Sonya terdengar, gemetar dan penuh isak tangis."Mas... Mas Arya, tolong... Bobi ada di sini. Dia bawa senjata tajam, Mas! Papa tadi kena dorong sampai jatuh di taman!" tangis Sonya pecah."Sonya, dengerin aku. Kamu di mana sekarang? Kamu aman?" tanya Arya, berusaha mengontrol suaran
続きを読む