"Mas Brian! Jangan buka pintunya!"Pekikan Jessy tertahan di tenggorokan, tangannya mencengkeram lengan jaket kulit Brian hingga kuku-kukunya memutih. Di luar, ketukan itu kembali terdengar—tiga kali, keras, dan berirama cepat yang menyentak keheningan ruang tamu mereka. Brian tidak segera bergerak. Ia justru meraba pinggangnya, merasakan dinginnya gagang besi yang terselip di balik ikat pinggangnya, sementara matanya terpaku pada bayangan siluet di balik kaca buram pintu depan. Ia sempat terhenti sejenak, menatap debu yang menempel di sudut pigura foto pernikahan mereka—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat saraf yang menegang hebat—sebelum akhirnya ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya."Tenang, Jess. Masuk ke kamar, sekarang!" bisik Brian, suaranya parau dan tajam."Nggak mau! Aku takut, Mas... jangan tinggalin aku," Jessy meratap, air matanya mulai membasahi kaos oblong yang dikenakan Brian. Tubuhnya yang sed
Read more