Denting sendok yang beradu dengan piring porselen di ruang makan keluarga Pak Broto terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu. Slamet menatap butiran nasi di piringnya, namun pikirannya melayang jauh ke lembaran kertas kusam yang kini ia simpan di balik saku beskap putihnya. Ia sempat terhenti sejenak, memutar-mutar gelas air putih di tangannya, memperhatikan bagaimana gelembung udara kecil naik ke permukaan—sebuah distraksi yang ia perlukan agar tangannya tidak gemetar di depan calon mertuanya."Met? Kok cuma diaduk-aduk nasinya? Ayo dimakan, bentar lagi rombongan kita jalan ke masjid," suara Pak Broto memecah kesunyian. Beliau tampak gagah dengan beskap senada, wajahnya memancarkan kelegaan yang tulus.Slamet mendongak, mencoba memaksakan senyum. "Nggih, Bapak. Sedikit mulas ini, mungkin karena tegang mau ijab kabul.""Hahaha! Biasa itu, Met. Dulu waktu saya mau nikahin Ibunya Cindy, saya malah hampir salah nyebut maskawin. Santai saja, se
Read more