Masuk"Mas Brian! Jangan buka pintunya!"
Pekikan Jessy tertahan di tenggorokan, tangannya mencengkeram lengan jaket kulit Brian hingga kuku-kukunya memutih. Di luar, ketukan itu kembali terdengar—tiga kali, keras, dan berirama cepat yang menyentak keheningan ruang tamu mereka. Brian tidak segera bergerak. Ia justru meraba pinggangnya, merasakan dinginnya gagang besi yang terselip di balik ikat pinggangnya, sementara matanya terpaku pada bayangan siluet di balik kaca buram pintu depan.
"Jangan sentuh dia, bajingan! Mundur atau aku teriak!"Cindy menjerit, suaranya parau tertahan di langit-langit ambulans yang sempit. Tangannya yang gemetar hebat kini mencengkeram botol oksigen kecil di samping tandu Slamet, siap diayunkan layaknya senjata pangkalan. Di depannya, pria berseragam perawat itu tertawa dingin. Pisau bedah di tangannya berkilat memantulkan cahaya lampu darurat biru-merah yang masih berputar di luar. Cindy sempat terhenti sejenak, menatap setitik noda kopi di kerah seragam pria itu—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat saraf yang nyaris putus—sebelum akhirnya ia meremas koin seribu rupiah di lehernya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya sendiri."Slamet sudah banyak tahu, Nona. Orang mati nggak bisa cerita, dan itu lebih aman buat bos saya," desis pria itu, langkahnya maju satu tindak, mengabaikan Tante Lina yang tergeletak tak sadarkan diri di tandu sebelah."N-n-nggak... m-mas Slamet... ngga
"Tante! Tante Lina!"Teriakan Arya membelah suara desing peluru yang baru saja menghantam pilar beton di pintu masuk gudang. Tante Lina tersentak, tubuhnya yang terbalut kebaya hitam itu limbung, lalu merosot perlahan di atas tumpukan palet kayu. Arya sempat terhenti sejenak, menatap debu yang beterbangan tertembus cahaya lampu mobil yang masih menyala—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat rasa kalut yang tak terbendung—sebelum ia menerjang maju, menangkup tubuh Tante Lina yang mulai terkulai. Jemarinya yang tadi meremas surat tes DNA palsu kini mendadak dingin saat menyentuh bagian punggung kebaya yang mulai basah dan hangat oleh cairan kental."Mas Arya... bawa Cindy sama Slamet pergi... sekarang!" Tante Lina mengerang, wajahnya sepucat kertas, namun matanya menatap tajam ke arah mobil hitam yang mulai memutar balik di kejauhan."Gusti... Tante, bertahan, nggih!" Arya meraba punggung Tante Lina, menemukan lubang kecil yang memuntahkan dara
"Den Arya, jangan dengerin mulut beracun perempuan itu!"Suara Slamet parau, nyaris habis tertelan deru angin malam yang menyusup masuk melalui pintu gudang pangkalan lama yang menganga. Ia berdiri bersandar pada pilar beton yang retak, tangannya menekan perut yang kembali merembeskan cairan merah kental hingga membasahi perban ICU-nya. Slamet sempat terhenti sejenak, matanya menatap seekor kecoa yang merayap di dekat kakinya—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat saraf yang berada di titik nadir—sebelum akhirnya ia memuntahkan sisa darah dari mulutnya dan menatap lurus ke arah Sita."Selamat datang di hari kiamatmu, Arya," Sita mengulang kalimatnya dengan nada yang lebih dingin, jemarinya yang mengenakan cincin berlian kini menekan pelatuk pistol ke pelipis Sonya yang terikat di kursi. "Gimana rasanya tau kalau anak yang lo sayang itu... Anya Baswira... ternyata cuma sampah yang dipungut Baskoro dari panti asuhan?!"Arya tidak menyahut. Tubu
"Pa! Mas Slamet pundi?! Tadi suster bilang dia baru saja dibawa ke sini, kenapa ranjangnya kosong?!"Suara Cindy melengking, menghantam sunyinya lorong sayap ICU Medistra. Ia berdiri mematung di ambang pintu kamar 402, jemarinya mencengkeram kusen pintu hingga buku-bukunya memutih. Di lantai, koin seribu rupiah yang terikat benang hitam itu tergeletak bisu, berkilat tertimpa lampu neon yang berkedip redup. Pak Broto yang tadinya sedang duduk tertunduk di kursi tunggu segera melompat bangun, wajahnya yang renta tampak kaku, seolah seluruh pasokan oksigen di paru-parunya mendadak lenyap. Ia sempat terhenti sejenak, menatap gorden jendela yang tersingkap lebar dan berkibar ditiup angin malam—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat rasa kalut yang luar biasa—sebelum akhirnya ia menghambur ke arah putrinya."T-t-tadi Papa cuma ke toilet sebentar, Nduk. Tadi Slamet masih tidur... Gusti, kenapa jendelanya terbuka?" suara Pak Broto bergetar hebat, fragmentas
"Jak! Bangun, Jak! Jangan mati dulu, bajingan!"Suara Brian parau, nyaris tenggelam oleh deru api yang mulai menjilati ban truk logistik di depan sana. Tubuhnya terjepit di antara dashboard dan jok mobil yang terbalik, menciptakan rasa panas yang menyengat di paha kanannya. Darah hangat mengalir dari pelipis, menetes ke layar ponselnya yang retak, menutupi notifikasi pesan ancaman yang tadi sempat membuatnya mematung. Brian sempat terhenti sejenak, menatap sebuah gantungan kunci sepatu bayi yang tergantung di spion tengah—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat rasa takut akan nasib Jessy—sebelum akhirnya ia menghantam kaca samping dengan sikunya hingga hancur berkeping-keping."Mas... Brian... lari..." rintih Jaka di sampingnya, suaranya sangat lemah, terputus-purtus oleh sesak napas akibat benturan kemudi."Diem lo! Kita keluar bareng-bareng!" Brian menggeram, otot-otot lengannya menegang hebat saat ia mencoba menarik tubuh Jaka keluar dari
"Mas Brian! Jangan buka pintunya!"Pekikan Jessy tertahan di tenggorokan, tangannya mencengkeram lengan jaket kulit Brian hingga kuku-kukunya memutih. Di luar, ketukan itu kembali terdengar—tiga kali, keras, dan berirama cepat yang menyentak keheningan ruang tamu mereka. Brian tidak segera bergerak. Ia justru meraba pinggangnya, merasakan dinginnya gagang besi yang terselip di balik ikat pinggangnya, sementara matanya terpaku pada bayangan siluet di balik kaca buram pintu depan. Ia sempat terhenti sejenak, menatap debu yang menempel di sudut pigura foto pernikahan mereka—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat saraf yang menegang hebat—sebelum akhirnya ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya."Tenang, Jess. Masuk ke kamar, sekarang!" bisik Brian, suaranya parau dan tajam."Nggak mau! Aku takut, Mas... jangan tinggalin aku," Jessy meratap, air matanya mulai membasahi kaos oblong yang dikenakan Brian. Tubuhnya yang sed
Sonya Fast kini beroperasi dari kantor darurat yang lebih kecil, namun semangat dan dedikasi Sonya untuk mengembalikan perusahaannya ke puncak tidak pernah melemah. Karena masalah yang terus menghantui perusahaannya, Sonya menjadi pemimpin yang lebih tegas dan galak. Dia tahu dia harus mengambil
Malam itu, Sonya dan Arya sedang menikmati kebersamaan mereka di vila yang tenang di tepi danau. Mereka duduk di teras, menikmati sejuknya malam danau yang cerminan bintang-bintang di langit.Sonya: (senang) Ini benar-benar tempat yang sempurna, Arya. Aku merasa begitu tenang
Malam itu, dalam rumah tempat Arya mengontrak, suasana begitu hangat dan penuh cinta. Mereka duduk bersama di ruang tamu yang dihiasi dengan cahaya lembut dari lampu hias, menciptakan aura romantis yang tak terlupakan. Sonya duduk di dekat jendela, memandang keluar ke malam yang tenang, sementara
Arya merasa bahwa saatnya untuk mengambil langkah tegas. Konflik di Sonya Fast telah membuatnya merasa semakin terpuruk, dan ia merasa bahwa ia perlu mengambil waktu untuk dirinya sendiri, menjauh dari semua masalah yang telah membebani pikirannya selama ini. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri







