Masuk"Pramono... b-b-bajingan itu beneran nekat, Bri?"
Suara Pak Broto bergetar hebat di lorong rumah sakit yang sepi, nyaris tertelan oleh deru mesin pendingin ruangan. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangan lampu darurat yang memantul di lantai marmer—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat rasa takut yang memuncak—sebelum akhirnya jemarinya yang keriput meremas pinggiran kursi plastik hingga memutih. Brian tidak segera menjawab; ia hanya menatap layar ponselnya d
"Tunjukkan pada Ratu Marundamu ini bagaimana cara supir pribadi menguasai wanita sampai pasrah tanpa sisa, Arya!" rintih Sonya Baskoro mendesah pasrah dari balik sandaran dinding kaca suite.Uap hangat pendingin udara dan remang cahaya lampu gantung membakar atmosfer kamar suite presiden Hotel Transit Batam pagi hari ini.Arya Baswira tidak membuang waktu satu detik pun, menyergap raga molek Sonya satset seraya menyandarkan tubuh berbeluk majikannya ke dinding kaca tebal yang menghadap panorama laut."Waduhhh… te-te-tetapi Sonya, kamu beneran dilarang menyesal kalau supir pribadimu bertindak terlalu beringas!" sahut Arya agak gagap terpana menatap paha mulus majikannya."Masa bodoh sama rasa sakit atau beringas itu, Arya, tumbuk dan kunci tempat basah saya sekarang juga!" potong Sonya menatap liar manik mata Arya.'Sialan, Ratu Besi yang biasanya angkuh membentak direksi s
"Renggut gaun beludru ini dan jangan pernah biarkan raga saya terlepas dari dekap jantanmu hari ini, Arya!" pangkas Sonya Baskoro berbisik dengan napas terengah-engah.Suasana suite khusus presiden Hotel Transit Batam mendadak berubah hangat, dibalut aroma minyak wangi mawar yang memancar dari leher mulus sang Ratu Besi.Sonya Baskoro melingkarkan kedua lengan indahnya di leher tegap Arya Baswira, merapatkan tubuh moleknya tanpa menyisakan selembar jarak pun."Waduhhh… te-te-tetapi Sonya, koper berkas kemenangan arbitrase ini beneran belum kita masukkan ke dalam brankas besi!" sahut Arya Baswira agak gagap terpana."Masa bodoh sama brankas baja itu, Arya! Kemenangan triliunan rupiah ini dilarang ada artinya kalau raga supir pribadi saya tidak ada di samping saya!" potong Sonya menatap tajam bibir Arya.'Kemenangan triliunan rupiah ini dilarang ada artinya kalau raga supir
"Nyalakan kamera transmisi terenkripsi ini sekarang, Cindy, kita buktikan cap jempol darah Papa di depan muka Hakim Singapura!" gertak Sonya Baskoro penuh wibawa puncak.Layar raksasa di ruang suite Hotel Transit Batam seketika menyala terang, memproyeksikan suasana meja majelis Mahkamah Arbitrase Singapura secara langsung.Sonya Baskoro berdiri tegap di samping Arya Baswira, mengibaskan jubah beludru cantiknya dengan keangkuhan Ratu Besi yang tak tergoyahkan."Waduhhh… te-te-tetapi Mbak Sonya, pengacara Konsorsium Barat di layar itu beneran sudah siap membantai bukti kita!" seru Juna agak gagap panik lewat radio."Tutup mulut konyolmu dan biarkan Ratu Marunda meratakan mereka, Juna!" potong Arya Baswira berdarah dingin.'Skakmat untuk kalian! Cap jempol darah Papa Baskoro di berkas ini sah seratus persen dan membatalkan seluruh klaim sanksi!' geram Jessy Baskoro dalam bat
"Genggam jemari tangan saya lebih rapat, Arya, raga saya beneran masih bergetar hebat usai lepas dari neraka Singapura itu!" bisik Sonya Baskoro pasrah seraya memeluk lengan tegap Arya Baswira.Roda helikopter penyelamat mendarat kaku di atas permukaan semen helipad rahasia atap Hotel Transit Batam pagi hari ini.Deru baling-baling helikopter perlahan melemah, menyemburkan angin laut hangat yang mengibaskan gaun beludru hitam sang Ratu Besi.Arya Baswira melangkah keluar palka lebih dulu, membopong pinggang mulus Sonya turun satset seolah majikannya barang berharga tak ternilai."Sertifikat asli saham induk ini resmi menginjakkan kaki di tanah air kita kembali, Sonya," puji Arya berdarah dingin."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, agen lokal bayaran Sektor Barat di Batam beneran sudah menyebar di sekitar pelabuhan!" jerit Juna agak gagap panik dari saluran radio taktis.
"Tutup mata kalian dan pegangan pada tiang besi, saya bakal ratakan celah trailer musuh ini fajar sekarang!" bentak Slamet menggelegar dari balik lingkar kemudi mobil box.Slamet menghantamkan telapak kakinya penuh ke pedal gas, memuntahkan raungan mesin diesel bertenaga gajah di tengah lorong pelabuhan Singapura.Bodi mobil box meluncur liar bagai banteng lepas, mengincar celah sempit satu setengah meter di antara dua bumper trailer raksasa."Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, celah itu beneran terlalu sempit buat ukuran bodi mobil box kita!" jerit Juna agak gagap panik seraya memeluk tiang besi."Bodi besi trailer kalian boleh tebal, tapi benturan bodi mobil box supir Marunda dilarang bisa ditahan!" tegas Slamet kaku membumi dalam batinnya yang membara.Brugghh…!Suara benturan pelat besi tebal beradu nyaring memecahkan keheningan der
"Retas arus listrik portal besi itu dari laptopmu sekarang, Cindy, polisi Singapura beneran cuma berjarak tiga blok dari lorong bank!" bentak Slamet menggelegar dari atas kursi kemudi mobil box pelarian.Layar komputer jinjing portabel di pangkuan Cindy memutarkan barisan kode dekode pekat, membiaskan pendar hijau beringas di dalam kabin mobil yang pengap.Jemari lentik Cindy menari liar di atas papan ketik dengan kecepatan gila, membobol sistem lalu lintas dan kompartemen keamanan finansial Singapura."Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, sinyal listrik portal bawah tanah itu terhubung langsung ke pencatu daya darurat gedung!" jerit Cindy agak gagap panik."Hancurkan pencatu daya darurat itu tanpa sisa, Dek Cindy! Raga Mbak Sonya dan Mas Arya ada di balik portal besi itu!" potong Juna memotong panik.'Aduhh… kalau lalu lintas kota ini dilarang macet, mobil pelarian k







