LOGIN"Pramono... b-b-bajingan itu beneran nekat, Bri?"
Suara Pak Broto bergetar hebat di lorong rumah sakit yang sepi, nyaris tertelan oleh deru mesin pendingin ruangan. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangan lampu darurat yang memantul di lantai marmer—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat rasa takut yang memuncak—sebelum akhirnya jemarinya yang keriput meremas pinggiran kursi plastik hingga memutih. Brian tidak segera menjawab; ia hanya menatap layar ponselnya d
"Berapa banyak lagi noda yang mau kalian simpan di bawah karpet kantor ini, hah?!"Suara Pak Hardi, salah satu komisaris paling senior di Sonya Fast, meledak hingga menggetarkan partisi kaca ruang rapat utama. Arya tidak segera menyahut. Ia justru tetap tenang, jemarinya sibuk memutar-mutar ujung pulpen Montblanc peninggalan mertuannya—sebuah distraksi kecil yang ia lakukan untuk meredam hasrat ingin menghantamkan meja ke wajah pria di depannya. Ia sempat terhenti sejenak, menatap debu yang menari di bawah sorot lampu gantung ruang rapat, teringat bahwa pagi tadi ia lupa meminum kopinya yang sudah dingin di meja dapur—sebuah detail tak relevan yang muncul di tengah ketegangan yang memuncak."Noda apa yang Bapak maksud? Kalau soal legalitas Marunda, tim legal kami sudah mengurusnya," sahut Sonya. Suaranya rendah, namun tajam, seolah sedang mengiris udara yang terasa kaku di ruangan itu."Jangan sok tenang, Sonya! Media sudah mulai me
"Mas Arya! Itu polisi atau timnya Pramono?!"Suara Sonya melengking, memecah kesunyian subuh di garasi Rumah Kemang. Ia mencengkeram jubah mandi sutranya kuat-kuat, matanya menatap nanar ke arah gerbang depan di mana sorot lampu biru berputar-putar menghantam pilar-pilar rumah. Arya sempat terhenti sejenak, menatap butiran embun yang mulai luruh dari daun pohon palem—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat rasa lelah yang luar biasa—sebelum akhirnya ia melangkah maju melindungi tubuh Sonya. Jemarinya yang masih hangat bekas sentuhan semalam kini kembali dingin dan kaku."Tenang, Nya. Kalau mereka mau sita rumah ini, prosedurnya nggak bakal jam segini," bisik Arya, mencoba menenangkan istrinya meskipun jantungnya sendiri berdegup kencang seperti mesin diesel pangkalan yang dipaksa jalan.Pak Dirman berlari dari arah pos jaga, napasnya tersengal. "Den Arya! Itu Mas Brian! Dia bawa polisi beneran, tapi katanya mereka habis nangkap orang di depan
"Pramono... b-b-bajingan itu beneran nekat, Bri?"Suara Pak Broto bergetar hebat di lorong rumah sakit yang sepi, nyaris tertelan oleh deru mesin pendingin ruangan. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangan lampu darurat yang memantul di lantai marmer—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat rasa takut yang memuncak—sebelum akhirnya jemarinya yang keriput meremas pinggiran kursi plastik hingga memutih. Brian tidak segera menjawab; ia hanya menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras, sementara keringat dingin mulai membasahi jaket kulit hitam yang ia kenakan."Bukan cuma nekat, Pak. Dia mainnya sudah nggak pake aturan pangkalan lagi," Brian berbisik sembari menunjukkan dokumen digital yang baru saja ia terima. "Ini akta tanah Marunda. Dia bilang tanda tangan almarhum Pak Hardjono di sini palsu. Dan dia punya bukti kalau Bapak yang... nggih, yang 'bantu' Mas Baskoro buat urusan administratifnya tiga puluh tahun lalu."Pak Broto terhuyung,
"Mas... ahh, jangan berhenti... terusss, Mas!"Desahan Sonya pecah di antara keheningan kamar utama Rumah Kemang, beradu dengan suara deru AC yang seolah tak mampu mendinginkan suhu tubuh mereka yang kian memuncak. Arya tidak menyahut dengan kata-kata; ia hanya merespons dengan dorongan yang lebih dalam, lebih bertenaga. Keringat bercucuran dari keningnya, menetes jatuh ke dada Sonya yang membusung, menciptakan kilap gairah di bawah temaram lampu tidur yang sengaja diredupkan. Arya sempat terhenti sejenak, menatap bayangan sebuah vas bunga di sudut ruangan yang tampak ganjil terkena cahaya—sebuah distraksi psikologis yang muncul akibat saraf yang terlalu tegang—sebelum akhirnya ia kembali memacu gerakannya, menenggelamkan diri dalam kehangatan liang intim istrinya yang menjepitnya dengan begitu nikmat."Kamuuu... kamu milikku, Nya. Cuma milikkuuu," bisik Arya parau, suaranya berat oleh gairah yang meluap.Sonya tidak menjawab, ia hanya menjerit kecil
"Mas... Anya sudah lelap?"Suara Sonya nyaris berupa bisikan yang tertelan oleh tebalnya pintu jati kamar mereka. Di luar sana, lorong lantai atas rumah Kemang itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan dengung halus dari mesin pendingin ruangan. Babysitter baru saja membawa Anya ke kamar sebelah setelah sesi dongeng singkat yang berakhir dengan dengkur halus sang balita. Arya tidak segera menyahut. Ia justru memutar kunci pintu dengan gerakan perlahan, bunyi klik logam yang beradu terasa begitu final, memutus koneksi mereka dengan dunia luar. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangan lampu taman yang menembus celah gorden—sebuah distraksi psikologis yang tak relevan—memikirkan apakah Pak Dirman sudah mengunci garasi bawah, sebelum akhirnya seluruh fokusnya tersedot pada sosok wanita di depannya.Sonya berdiri mematung di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun terusan hitam sisa acara kantor tadi siang. Bahunya tampak layu, dan dalam tem
Gelas berisi kopi hitam di meja kerja jati itu sudah tidak lagi mengeluarkan uap, menyisakan noda melingkar yang mengering di atas tumpukan berkas laporan keuangan. Arya menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran mendiang mertuanya, menatap keluar jendela kaca besar yang menghadap langsung ke riuhnya jalanan Kemang. Ia sempat terhenti sejenak, meraba sandaran tangan kursi yang kulitnya terasa dingin—sebuah pengingat bahwa sosok Macan yang biasanya duduk di sini kini telah beristirahat di bawah tanah merah. Distraksi itu pecah saat pintu jati ruang kerja terbuka dengan dentuman pelan."Mas Arya, pengacara dari pihak Sita sudah di depan. Mereka bawa surat dari pengadilan," suara Sonya terdengar datar, namun Arya bisa melihat jemari istrinya yang gemetar saat memegang gagang pintu.Arya bangkit, melangkah menghampiri Sonya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan merengkuh bahu istrinya, memberikan remasan pelan yang sarat akan dukungan. "Tenang, Nya. Mereka cuma mau
Malam itu, setelah mengantarkan Bu Sonya ke rumah dan menyelesaikan tugasnya sebagai sopir pribadi, Arya merasa cukup lelah. Ia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya, melepaskan segala penat dari seharian bekerja. Namun, ketika ia baru saja merasa nyaman dan hampir terlelap, ponselnya bergeta
Setelah Arya selesai memberikan pijatan yang melegakan bagi Bu Sonya, suasana di dalam kamar mewah tersebut menjadi lebih tenang. Bu Sonya merasakan kelegaan yang luar biasa dari pijatan tadi, meredakan ketegangan dan pegal-pegal yang selama ini mengganggu. Ia menghela napas panjang, merasa segar ke
Esok harinya, suasana di kantor Sonya Fast kembali menjadi sibuk seperti biasa. Meskipun mereka telah menghabiskan waktu refreshing di resort, namun kembali ke pekerjaan adalah suatu keharusan. Bu Sonya sudah berada di mejanya sejak pagi, sibuk merencanakan agenda dan memeriksa laporan-laporan ya
Keesokan harinya, saat istirahat siang di ruang kerjanya, Bu Sonya sedang menikmati makan siangnya ketika ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy ia pun menjawab panggilan tersebut."Halo, Jessy. Ada kabar apa?" tanyanya penuh antusias."Ha







