"J-Jaka, ulangi sekali lagi. Kamu nggak sedang bercanda, kan?"Arya merenggut kerah kemeja Jaka hingga kancing teratasnya terlepas, memantul di atas karpet mahal ruang kerja mendiang Baskoro. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara ruangan yang didinginkan AC sentral hingga titik beku. Ia sempat tertegun sejenak, menatap debu yang beterbangan di bawah sorot lampu meja—sebuah distraksi psikologis yang muncul saat otaknya menolak memproses kegilaan—teringat bahwa ia belum sempat membayar tagihan asuransi truk pangkalan Marunda yang jatuh tempo besok pagi, sebelum akhirnya ia kembali menatap mata Jaka yang bergetar hebat."S-sumpah, Den Arya. Tim forensik di RS pangkalan baru saja membuka peti itu. Kosong. Maksud saya... bukan jenazah Pak Baskoro yang ada di sana. Hanya emas batangan, berderet rapi, seolah-olah... seolah-olah peti itu memang peti harta, bukan peti mati," Jaka terbata-bata, keringat dingin membasahi pelipisnya me
Read more