"Lepaskan dia, bajingan! Atau aku pastikan nggak ada satu pun dari kalian yang keluar hidup-hidup dari rumah sakit ini!"Raungan Brian memecah kesunyian lorong VIP RS Medistra yang remang. Suaranya pecah, serak oleh amarah yang beradu dengan ketakutan murni. Di ujung lorong, tepat di depan pintu kamar Tante Lina, seorang pria berseragam perawat gadungan mencengkeram leher Jessy. Pisau bedah yang berkilat dingin menempel tepat di kulit leher istrinya yang sedang hamil besar. Brian sempat tertegun, matanya menangkap detail kecil yang tidak relevan—sebuah noda kopi di lantai ubin—sebelum fokusnya kembali pada wajah Jessy yang pucat pasi, menahan kontraksi yang mulai menyerang perut buncitnya."M-m-mas Brian... jangan... ahh, perutku sakit..." rintih Jessy, suaranya fragmentasi, tangannya mencengkeram lengan si perawat palsu itu dengan sia-sia."Diem lo, Brian! Satu langkah maju, bini lo gue iris!" teriak si perawat gadungan itu. Napasnya memburu, matany
Read more