"Turunkan senjatamu, Rian! Atau aku pecahkan kepala harammu sekarang juga!"Arya menggeram, kunci roda di tangannya gemetar hebat bukan karena takut, tapi karena murka yang meluap hingga ke ujung saraf. Ia berdiri pasang badan di depan Sonya, melindungi bodi istrinya yang masih gemetar akibat pelarian lorong bawah tanah yang pengap. Pupil mata Arya mengecil tajam, napasnya memburu—sebuah reaksi fisik atas layar ponsel yang masih menyala, menampilkan pengkhianatan Larasati yang lebih panas dari api yang membakar Kemang."Kakak Arya, jangan emosi. Jatah kesetiaan Ibu Larasati sudah habis dipalak utang budi pada Wisnu Wijaya," Rian berujar tenang, moncong senjatanya tetap mengunci tepat di ulu hati Sonya."K-k-kowe bohong! Ibu nggak mungkin jual Marunda!" Sonya memekik gagap, jemarinya mencengkeram erat pinggang Arya sembari menahan isak yang terasa menyesakkan rungu.Bau solar dari fuso Slamet yang tersabotase merayap masuk ke indera penciuman, beradu
Baca selengkapnya