"Cabut tabungnya, Brian! Cabut sekarang!"Arya melompat dari tangga menara pengawas, kakinya menghantam aspal dermaga dengan bunyi debum yang merambat hingga ke tulang kering. Ia berlari membabi buta menuju klinik pangkalan, mengabaikan perih di lengannya yang baru saja tersayat besi tua. Pupil matanya melebar, napasnya tercekat oleh bayangan Larasati yang sedang menghirup maut lewat selang plastik—sebuah guncangan batin yang membuat setiap detik terasa seperti lilitan kawat berduri di lehernya."Den, j-j-jangan didekati! Kalau meledak, klinik ini rata!" Brian berteriak dari balik barikade, namun suaranya hanya menjadi angin lalu bagi Arya.Arya menendang pintu klinik hingga engselnya jebol, menciptakan dentuman logam yang memekakkan telinga di kesunyian koridor yang pengap. Bau antiseptik yang tajam beradu dengan aroma bensin yang terbakar dari kejauhan, menciptakan atmosfer yang sangat sesak dan memuakkan. Ia melihat Larasati terbaring lemah, dadanya nai
Baca selengkapnya