"Cindy, lepaskan pisaunya atau aku sendiri yang akan mengakhiri sandiwara ini!"Arya meraung, suaranya memantul di dinding lembap ruang bawah tanah panti asuhan yang pengap. Pupil matanya melebar tajam, mengunci setiap gerak jemari Cindy yang gemetar di dekat nadi Anya. Bau apak tanah dan aroma parfum cendana yang menyengat menciptakan atmosfer yang begitu sesak, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis.Cindy terisak, napasnya tersengal, pendek-pendek. "Den Arya... Mbak Sonya... aku tidak punya pilihan! Dia... dia mengancam akan menghapus jejak keluargaku jika aku tidak membawa kunci Jogja ini!"Sonya berdiri mematung di belakang Arya, wajahnya pucat pasi seputih kapas. Ia menatap foto Saraswati Baskoro di dinding, wanita yang wajahnya benar-benar kembaran identik dirinya, namun dengan binar mata yang jauh lebih dingin. Persentuhan jemarinya dengan kunci perak di sakunya terasa membeku, sebuah reaksi fisik atas kenyataan yang baru saja menghantam l
Baca selengkapnya