"Longsor di Kelok Sembilan dilarang bisa dibersihkan dalam waktu dua hari, Mbak Sonya!" tegas Arya Baswira seraya melangkah keluar dari teras paviliun menuju meja kayu warung kopi penginapan rimba saat fajar belum menyingsing. Sonya Baskoro berjalan anggun di sampingnya mengenakan blazer hitam rapi, menyembunyikan tanda merah di lehernya dengan selendang sutra. Di meja kayu warung kopi, Slamet, Juna, Badrun, dan seorang supir veteran lokal Jambi bernama Mbah Wo sudah berkumpul mengelilingi peta kertas Sumatra Barat. "Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, kalau kita maksa nunggu jalan utama dibuka, beras lima ton di bak belakang bisa membusuk kena embun!" celetuk Juna agak gagap panik seraya menyeruput kopi hitamnya. "Makanya subuh ini kita musyawarah menentukan rute jalan pintas yang bisa dilalui tujuh Fuso Marunda, Juna," sahut Slamet kaku seraya menunjuk garis merah di atas peta.
Last Updated : 2026-09-02 Read more