Mobil tua itu melaju kencang di jalan berlumpur menuju perbatasan, suspensinya berderit seperti menahan napas terakhir. Hujan tipis memburamkan kaca depan, tapi mata Leonhardt tetap fokus—tenang dan tajam seperti selalu. Di kursi belakang, Margarethe memeluk kapsul logam itu erat di pangkuannya. Logam dingin menempel pada telapak tangannya, seolah memiliki denyut sendiri. Ia tidak sadar sejak kapan jemarinya menggenggamnya sekuat itu. Di kursi depan, Adelheid menggosok sepatu bot kulitnya dengan saputangan. “Ini sepatu baruku,” gerutunya. “Satu-satunya yang kubeli sendiri dari butik di Praha. Harusnya kugunakan untuk wawancara kerja, bukan lari dari pembunuh bayaran.” “Aku kira itu bagian dari wawancara kalau kau melamar jadi agen rahasia,” jawab Leonhardt tanpa menoleh. Adelheid mendecak. “Lucu sekali, Herr von Paranoia.” Margarethe tersenyum tipis tanpa mengangkat kepala. Suara mereka seperti jangkar kecil yang menahannya tetap di dunia nyata—bukan di dalam rekaman sua
Last Updated : 2026-02-16 Read more