Isla keluar dari ruang ganti, kini sudah berpakaian rapi. Rambutnya masih lembap sehabis mandi, menyisakan aroma sabun yang lembut di sekitarnya. Dia berhenti di ambang pintu, mata birunya melirik ke arah Gabriel. Begitu pandangan mereka bertemu, Isla langsung menatapnya tajam, ekspresinya kembali dingin."Apa lagi sekarang?" tanyanya pelan, tetapi nadanya tajam.Gabriel tidak membalas amarah itu. Dia malah berbalik ke meja kopi, tempat troli sarapan menunggu, lalu mulai menata makanan."Duduk. Kamu perlu makan," katanya singkat.Tanpa menjawab, Isla melewatinya dan duduk dengan kaku di salah satu sofa. Gabriel menuangkan kopi ke cangkir lebih dulu dan menggesernya ke arah Isla. Dia mengambilnya, meneguk sedikit, lalu meraih donat. Awalnya dia makan sedikit, tetapi rasa lapar akhirnya menang. Satu donat habis, lalu satu lagi, disusul kopi.Semua itu dia lakukan tanpa menatap Gabriel, tanpa sepatah kata pun. Baru setelah selesai, dia mendorong piring kosong itu sedikit menjauh, menyilan
Read more