"Aku baik-baik saja, nggak ada yang perlu dikhawatirkan," gumam Isla sambil mengalihkan pandangan dan meraba-raba tempat tidur, tangannya menyisiri seprai."Kamu cari apa?" tanya Gabriel, menyadari kalau Isla menghindari tatapannya."Ponselku," jawabnya, masih menggeledah kasur."Ponselmu nggak ada di sini, Isla. Tadi malam kita tinggalkan hampir semua barang kita di ruang tamu." Gabriel memiringkan kepala, menatapnya lebih dalam. "Terus, kenapa kamu nggak berani menatap aku?"Tubuh Isla menegang, tetapi dia tetap tidak menatap Gabriel. "Apa? Nggak, aku nggak mengalihkan pandangan darimu. Aku cuma lagi cari ...." Suaranya terputus, kalimatnya menggantung.Perlahan, dia menegakkan tubuh, lalu berbalik menghadap Gabriel. Tatapan mereka bertemu. "Baiklah, aku ketahuan." Dia menggigit bibir, ragu-ragu. "Aku cuma ...." Dia mengembuskan napas. "Kamu tahu, aku masih nggak percaya semua ini benar-benar terjadi di antara kita, Gabriel. Rasanya seperti mimpi, dan aku nggak mau bangun."Setelah p
Read more