"Bunuh saya, Pak. Bunuh saya, saya mohon," bisik Maira dengan suara parau yang menyayat hati, begitu lirih namun sarat akan penekanan.Wisnu membeku sejenak. Kata-kata itu meluncur dari bibir Maira tanpa ragu sedikit pun, menjadi tamparan tak kasat mata bagi egonya. Pria itu mencengkeram rahang Maira dengan jemari besarnya, menekannya agar Maira tidak bergerak.“Bunuh saya,” lirih lagi Maira.Wisnu melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak, menghela nafas panjang dan meremas rambutnya.“Dokter belum memeriksa dengan jelas terkait kehamilanmu, Maira. Kamu belum tentu mengandung anak saya,” rasa frustasi Wisnu meluap.Sejak Maira diperiksa dan dokter mengatakan kemungkinan itu, Wisnu belum percaya seratus persen. Wisnu hanya suka melihat bagaimana wanita itu panik dan ketakutan, tetapi justru yang dilakukan Maira di luar dari perkiraannya.Wisnu menatap Maira dengan kesal dan menahan amarah karena melukai dirinya sendiri."Dengar baik-baik," bisik Wisnu tepat di depan wajah Maira, sua
Baca selengkapnya