“Tahan sebentar,” gumam Wisnu rendah, nyaris seperti bisikan.Maira membuka matanya yang sembap dan berkaca-kaca. Dari posisinya yang terduduk, ia bisa melihat dengan jelas puncak kepala Wisnu. Rambut hitam pria itu sedikit berantakan, dan untuk pertama kalinya, Maira tidak melihat binar intimidasi yang biasa membakar sepasang mata elang tersebut.Wisnu meraih botol antiseptik dan kain kasa steril dari kotak P3K yang selalu tersedia di bawah meja sudutnya. Saat cairan dingin itu menyentuh kulit Maira yang meradang, gadis itu spontan menarik kakinya ke belakang.“Pak... s-sakit,” rintih Maira dengan suara parau, air matanya kembali meluncur bebas melewati pipi yang pucat.Namun, alih-alih membentak atau memaksa seperti biasanya, tangan besar Wisnu justru menahan pergelangan kaki Maira dengan usapan lembut ibu jarinya.“Jangan bergerak, Maira. Kalau tidak dibersihkan sekarang, bisa semakin sakit dan membengkak,” sembari Wisnu meniup luka itu.Setelah memastikan darahnya berhenti merembe
Read more