Lima Tahun Kemudian. Aula utama Gedung Sate, Bandung, dipenuhi oleh pejabat daerah, akademisi, dan investor asing. Pendingin ruangan bekerja maksimal, tapi atmosfer di dalam ruangan itu terasa panas oleh perdebatan kebijakan ekonomi. Di podium utama, berdiri seorang wanita muda berusia 27 tahun. Dia mengenakan setelan blazer abu-abu tua yang pas di tubuh rampingnya, kemeja putih sutra berkerah tinggi, dan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat cerdas sekaligus mengintimidasi. Rambutnya disanggul french twist yang rapi, tanpa ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Soraya Adhitama, S.E., M.Ec. Di layar proyektor raksasa di belakangnya, terpampang grafik pertumbuhan ekonomi daerah yang rumit. Tangan Soraya memegang laser pointer, menunjuk titik kritis pada kurva dengan mantap. "Berdasarkan data real-time yang kami kumpulkan selama tiga kuartal terakhir," suara Soraya bergema jernih dan tegas melalui mikrofon, "kebijakan subsidi yang Bapak usulkan tid
Terakhir Diperbarui : 2026-01-06 Baca selengkapnya