Siang itu, debu semen di ruko Cipete terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Gilang baru saja turun dari scaffolding, wajahnya cemong, kaosnya basah kuyup. Dia sedang mengawasi pemasangan kusen jendela aluminium hitam yang akan menjadi wajah baru bangunan tua itu.Sebuah mobil Innova hitam berhenti di depan proyek. Pak Yudi turun, mengenakan kemeja batik yang rapi. Dia tersenyum lebar melihat progres bangunan."Siang, Lang! Wah, cepet banget kerjanya. Udah mau pasang kaca aja," sapa Pak Yudi ramah.Gilang menyeka keringat dengan lengan. "Siang, Pak. Kita kejar target biar Bapak bisa cepet sewain.""Bagus, bagus. Saya suka semangat kamu," Pak Yudi menepuk bahu Gilang. "Oh ya, Lang. Bisa ngobrol sebentar di warung? Ada hal penting soal kontrak."Jantung Gilang berdegup. Kontrak? Apa ada masalah? Apa desain gue jelek?Mereka duduk di warung kopi depan ruko. Pak Yudi memesan kopi hitam, Gilang memesan es teh."Gini, Lang," Pak Yudi membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop teba
Terakhir Diperbarui : 2026-01-05 Baca selengkapnya