“Maaf, saya harus begini.” Zayn menatap Leena dengan kilat cemas. Tanpa banyak pilihan, ia mendekat dan menjadikan mulutnya sendiri sebagai perantara. Perlahan, pria dingin itu menyalurkan air dari cangkir yang baru saja ia sesap.Bibir Leena bergetar saat merasakan sentuhan hangat itu, rasa pahit pil di ujung lidahnya perlahan luruh tersapu air. Tangan lemah Leena memukul pelan bahu Zayn, sementara tangan satunya meremas perut yang masih terasa diaduk-aduk, tubuhnya setengah menekuk di atas brankar.“Mph… pahit, Pak,” keluh Leena dengan suara yang nyaris hilang. Helaan napas singkat lolos dari bibir Zayn, nada suaranya lembut tapi tegas. “Ya sabar. Kamu nggak kuat duduk, mau gimana lagi?”Lagi. zayn kembali menyesap sedikit air, lalu menyalurkan dengan hati-hati ke mulut Leena.Leena terlalu lemas untuk sekedar menolak, manik matanya setengah terpejam, hanya bisa pasrah.Dalam hati, Zayn mengoceh, ‘Cih! Tadi aja sok-sok-an kuat.’ Dengan nada khawatir yang tak lagi bisa ditekan, Z
Baca selengkapnya