“Van… bukannya kita mau makan?”Suara Leena melengkung tipis, tertahan di antara ragu dan debaran jantung yang mendadak tak karuan. Lututnya yang sudah lemas, kini terpaksa dipacu kembali demi mengikuti Evan.Namun, ada yang salah. Sahabatnya itu tak melangkah ke gerbang keluar atau kantin fakultas. Manik mata Evan nampak terkunci pada satu objek, kakinya bergerak impulsif mengikuti Zayn yang terus menjauh.Mencoba sekali lagi, kali ini Leena menyentuh ujung setelan Evan sambil menarik mundur. “Nggak jadi nih, Van, makan barengnya?” Tanpa menoleh sedikit pun, Evan terus melangkah. Tatapannya tajam penuh selidik, persis layaknya detektif yang sedang mengunci target operasi. Telinga Evan seolah mendadak tuli oleh suara bising kecurigaan yang semakin menyeruak.Leena menghentikan langkahnya sejenak. Ia mematung di tengah koridor terbuka, otaknya dipaksa bekerja di bawah tekanan adrenalin, sebelum akhirnya sadar akan sesuatu.‘Tunggu... tunggu,’ batin Leena mulai was-was. ‘Anak ini lagi
Last Updated : 2026-02-01 Read more