“Lah… gimana, sih?!”Nada bicara Leena sedikit meninggi, tubuh gadis itu tersentak saat kedua pergelangan tangannya mendadak disambar Zayn dari belakang.“Udah cukup,” ujar Zayn tegas.Leena berusaha menarik diri sebisa mungkin, dan saat cekalan Zayn mengendur, ia langsung berbalik untuk protes. Manik mata keduanya kini beradu intens dalam jarak yang sangat dekat, membuat napas Leena mendadak tersendat di kerongkongan.Zayn menunduk, menatap Leena dengan kilat yang sulit diartikan.“Kayaknya emang nggak dibutuhin,” bisik Zayn dengan santainya.Hembusan napas kesal lolos dari bibir Leena, rautnya mulai merah karena merasa dipermainkan di tengah rasa lelah.“Huft! Jadi, dari tadi emang lagi ngerjain saya? Cape tahu, Pak! Saya kira emang penting buat rapat!” omel Leena dengan spontan.Seakan tak peduli lagi dengan sopan santun, rasa jengkel Leena sudah lebih dulu meluap karena tenaga yang sudah ia buang untuk mencari arsip tadi.Di tengah situasi intens itu, Leena mengambil kesempatan s
Read more