“Hah? Nggak usah akting, Kak!” Leena menyahut refleks. Meski nadanya terdengar spontan, bahasa tubuh Leena nampaknya berkhianat. Begitu telinganya mendengar nama Zayn, bahunya menegang kaku. Spontan tangannya dibuat sibuk merapikan sendok di atas meja, meski sendok-sendok itu sebenarnya sudah tersusun rapi. “Kak, bercandanya nggak lucu,” bisik Leena, nyaris tak lebih dari hembusan napas. Anggi memicingkan mata. Ia jelas menangkap kegugupan Leena. Dengan senyum penuh arti, ia kembali menyambar celah. “Kenapa sih, lo langsung gugup gitu kalau gue nyebut nama dia? Emangnya kenapa juga lo nggak mau sama—” “Kak Anggi,” potong Leena cepat, suaranya lebih ditekan, tegas tapi masih tetap rendah. “Stop deh. Nggak usah mikir yang aneh-aneh.” Anggi menutup mulut dengan kepalan tangan, mencoba menekan tawa yang hampir meledak. Manik matanya berkilat usil, jelas tampak menikmati reaksi juniornya itu. Sementara Leena justru makin mendekat, bahunya condong ke depan, seolah takut kalau-kala
Last Updated : 2026-01-22 Read more