Di Gedhong Keputren Timur, suasana semakin sibuk. Bau bunga melati bercampur dengan wangi minyak cendana, memenuhi ruangan tempat para putri bersiap. Dayang-dayang mondar-mandir membawa perhiasan emas, selendang halus, dan hiasan kepala berkilauan. Nawang duduk di depan cermin besar berhias ukiran ukel berlapis emas. Rambut panjangnya disanggul tinggi dengan gaya gelung puspa, dihiasi hiasan kepala bercorak Majapahit kuno. Lempengan emas berbentuk bunga padma dengan batu merah delima di tengahnya. Namun di atasnya, jamang Mataram yang melengkung anggun menambah kesan lembut dan suci, seperti wujud dua zaman yang menyatu di kepalanya. “Aduh... ini berat banget!” keluhnya sambil menahan kepala. “Gusti Rara, mohon sedikit menunduk.” kata dayang itu lembut. “Menunduk? Kepalaku malah mau jatuh, Mbak! Ini kayak bawa batu bata di kepala!” “Gusti, bersabarlah sedikit. Ini perhiasan kebesaran, bukan hiasan biasa,” ujar Kenanga sambil tersenyum kecut. “Iya, tapi... ya ampun, cantik sih, t
Última actualización : 2026-01-21 Leer más