Malam merambat semakin dalam. Cahaya api unggun mulai mengecil, tertiup angin pelan yang membawa aroma tanah lembab. Brata, Larang, Tirta, dan Ki Sandi Guna sudah tertidur di luar bilik sederhana yang disiapkan, sementara Nawang berada di dalam, terbaring dengan mata yang tak sepenuhnya mau terpejam. Awalnya semua sunyi. Hingga tiba-tiba… Krek... Suara ranting patah terdengar samar dari arah semak-semak tak jauh dari tempat mereka. Larang mengerjap pelan. Ia membuka mata, mencoba memastikan apakah itu hanya mimpi. Namun suara itu terdengar lagi, lebih jelas kali ini. Krek… krek… seolah ada langkah yang berusaha disembunyikan namun gagal. Larang langsung bangkit duduk, menahan napas. Ia membungkuk sedikit, menatap ke arah gelap di balik pepohonan. Sinar api yang hampir padam membuat bayangan di sekitar tampak bergerak-gerak samar, menambah suasana mencekam. Ia menoleh pelan, menyentuh bahu Brata. “Ra… bangun.” Brata mengernyit, masih setengah sadar. Tapi ekspresinya l
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-26 อ่านเพิ่มเติม