"Kenanga," ucap Nawang tiba-tiba tanpa menoleh. "Ya, Gusti?" "Jangan ceritakan semua ini pada siapa pun. Tentang cincin itu. Tentang Gedhong Pusaka. Apa pun yang kau lihat malam ini, biarlah hanya antara kita." Kenanga menunduk dalam, lututnya terasa lemas. "Nggih, Gusti Rara. Aku bersumpah tidak akan mengatakannya." "Bagus," ujar Nawang lirih. Ia berdiri perlahan, membetulkan jarik dan selendangnya. "Sekarang masuklah lebih dulu. Aku ingin di sini sebentar." Kenanga menatapnya khawatir, tapi tak berani membantah. "Baik, Gusti Rara. Tapi jangan terlalu lama. Udara malam bisa membuat badan Gusti masuk angin." Begitu Kenanga pergi, Nawang memejamkan mata. Angin berhembus lagi, membuat permukaan kolam kembali beriak. Ia membuka matanya cepat, menatap ke air. Tak ada siapa-siapa, hanya bayangannya sendiri yang menatap balik, dengan wajah sendu dan mata berkaca. Namun kali ini, ia tahu betul bayangan itu bukan dirinya. "Jangan khawatir..." bisiknya pada pantulan itu.
Última actualización : 2026-01-17 Leer más