Aku tahu semua mata tertuju kepada kami malam itu. Namun, aku sudah tidak peduli lagi.Aku mencintai Felicia. Mulai malam ini, aku akan mengubah caraku memperlakukannya."Kamu cantik sekali, Felicia," bisikku sambil menyerahkan setangkai mawar merah kepadanya.Aku meletakkan kedua tanganku di pinggang rampingnya, sementara dia meletakkan kedua tangannya di lenganku saat kami mulai berdansa."Kamu baru sadar? Aku sih sudah tahu sejak dulu. Eh, kamu habis minum banyak, ya? Bau alkoholnya kuat banget. Pestanya saja belum selesai, tapi kamu sudah mabuk," jawabnya sambil tersenyum."Aku nggak mabuk, cuma minum sedikit. Ngomong-ngomong, Marcus itu pacarmu?" tanyaku tanpa bisa menahan diri.Aku melihat raut wajahnya yang terkejut sebelum akhirnya menjawab, "Kenapa memangnya? Huh. Kalau aku mau menjadikan dia pacarku, memang kenapa? Umurku sudah cukup. Aku boleh menerima seseorang yang mengejarku dan punya pacar.""Nggak boleh. Kamu masih terlalu muda buat pacaran. Selesaikan kuliahmu dulu. Bu
Read more