Malam itu, Jakarta sedang diguyur hujan rintik yang membawa hawa sejuk ke dalam kamar utama yang temaram. Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Di tengah kesunyian yang dalam, Lily tiba-tiba terbangun bukan karena suara petir, melainkan karena sensasi kaku yang meremas perut bagian bawahnya.Dia menarik napas panjang, mencoba tenang. "Mungkin hanya Braxton Hicks," gumamnya pelan, merujuk pada kontraksi palsu yang belakangan sering dia rasakan.Sepuluh menit kemudian, rasa remasan itu datang lagi. Kali ini lebih lama, sekitar tiga puluh detik, dan menjalar hingga ke pinggang belakang. Lily melirik Dewa yang tertidur pulas di sampingnya. Wajah suaminya tampak sangat lelah setelah lembur menyelesaikan laporan tahunan perusahaan agar bisa mengambil cuti panjang saat Lily melahirkan nanti.Lily memutuskan untuk tidak membangunkan Dewa dulu. Ia ingat pesan Dokter Sarah."Tetap rileks, gerakkan tubuhmu agar posisi janin optimal."Dengan perlahan, Lily turu
Read more