Dewa meletakkan ponselnya dengan dentuman pelan di atas meja makan, suara yang cukup untuk memecah keheningan pagi yang semu itu. Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan. Di depannya, Lily masih sibuk mengoles selai ke roti tawar, gerakannya terlihat sangat mekanis dan teratur, seolah-olah dia sedang menjalankan sebuah skenario yang sudah dihafal luar kepala."Nadia mengirim pesan, Ly," ulang Dewa, suaranya kini lebih berat, penuh dengan nada interogasi yang tertahan. "Dia bilang ibunya sesak napas. Dan dia bilang, kamu yang menyuruhnya menghubungi aku kalau ada keadaan darurat."Lily tidak langsung menoleh. Dia menyelesaikan olesan selainya, lalu meletakkan pisau perak itu di tepi piring dengan denting halus. Dia menoleh ke arah Dewa, menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu tulus, namun di mata Dewa, senyum itu terlihat seperti topeng plastik."Oh, syukurlah kalau dia ingat pesan aku," jawab Lily ringan, suaranya tenang tanpa riak. "Kasihan dia, Mas.
Read more