DUK! DUK! DUK!Suara langkah kaki Seira terdengar cepat menuruni tangga. Ia masuk ke dapur tanpa benar-benar sadar apa yang sedang ia lakukan. Tangannya membuka lemari es, mengambil air dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas.Ia meneguknya perlahan.Namun pikirannya tidak di sana.Bayangan Lucan—wajah pucatnya, keringat dingin di pelipisnya, cara dia berjalan tergesa masuk ke kamar Leo—terus berputar di kepalanya.Seira menatap kosong ke depan.“Apa dia… sedang mencoba mengambil simpatiku?” gumamnya lirih.Namun kalimat itu bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.Tubuhnya bersandar pada meja dapur.Gelas di tangannya masih setengah penuh.Matanya—tanpa sadar—berulang kali melirik ke arah tangga.Ke arah kamar Leo di lantai atas.Pintu itu…sedikit terbuka.**Di dalam kamar—Lucan terduduk di lantai.Punggungnya bersandar lemah pada sisi ranjang. Kepalanya sesekali terangkat, namun kembali jatuh. Matanya terpejam, rahangnya mengeras.“Agghh… hah… hah…”Napasnya tida
Baca selengkapnya