LOGIN“HENTIKAN... IBU, TOLONG—HENTIKAN!!” Cahaya itu kembali menyala di dada Lucan, membakar dari dalam. *********** Sejak lahir, Lucan adalah seorang Seraphine—pengganti nyawa kakaknya di dunia Lumeris. Setiap kali Elyon hampir mati, hidup Lucan yang dibayar. *********** Saat ia melarikan diri ke dunia manusia, Lucan berharap bisa hidup bebas. Namun di sana, ia kembali menjadi pengganti—kali ini demi Seira, gadis yang dilindunginya dari kejaran para Seraphine. *********** Di dua dunia yang berbeda, Lucan selalu dipilih untuk mati lebih dulu. Sampai akhirnya, ia memutuskan: hidup untuk dirinya sendiri.
View MoreBOOMMM!
Cahaya biru menembus awan malam, jatuh seperti bintang yang terbakar.
Langit di atas laut seolah terbelah oleh kilatan menyilaukan, meninggalkan jejak panjang bercahaya yang memaksa siapa pun yang melihatnya terdiam. Beberapa nelayan di kejauhan menghentikan langkah, menunjuk ke arah langit dengan napas tercekat.
“Apa itu… meteor?”
“Tidak mungkin. Warnanya—”
Namun sebelum ada yang sempat menyimpulkan, cahaya itu telah menghantam bumi.
Dentumannya mengguncang garis pantai. Pasir terangkat, air laut muncrat tinggi ke udara.
BUGH!
Sebuah tubuh bercahaya jatuh menghantam tanah dengan keras—terpental, berguling beberapa kali, sebelum akhirnya terdiam di antara pasir basah dan buih ombak. Jejak cahaya tertinggal di belakangnya, berdenyut lemah… lalu perlahan padam.
Hujan asin air laut membasahi kulitnya. Aroma laut yang tajam menampar wajahnya tanpa ampun.
“Khh—! Uhuk!”
Ia terbatuk keras. Tubuhnya bergetar sejenak, seolah paru-parunya lupa bagaimana caranya bernapas. Rasa sakit menjalar dari dada hingga ke ujung jari—asing, menekan, dan terlalu nyata.
“Uhuk!”
Darah memercik dari bibirnya.
Bukan lagi bercahaya seperti dulu.
Melainkan merah.
Merah seperti manusia.
“A—apa ini…?” gumamnya tercekat.
Lucan terengah, lalu perlahan mengangkat tangannya. Jemarinya gemetar hebat. Di bawah kulitnya, urat-urat cahaya yang dulu mengalir seperti sungai energi kini memudar satu per satu, menghilang seakan tak pernah ada.
“Hah… hah…”
Dadanya terasa sesak. Nalurinya berteriak panik.
Sayapnya—
Lucan mencoba menggerakkan punggungnya.
Tidak ada apa-apa.
Tak ada denyut energi surgawi. Tak ada cahaya yang biasanya merespons setiap kehendaknya. Yang tersisa hanyalah kehampaan.
Kepalanya terangkat, menatap langit gelap yang asing.
“Ini… bukan Lumeris…”
Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh debur ombak.
Ia memejamkan mata, dan untuk sesaat—ingatan itu menghantamnya.
Langit abadi yang tak pernah gelap. Pilar-pilar cahaya menjulang tanpa bayangan. Nyanyian para Seraphine yang bergaung tanpa suara. Singgasana agung yang tak pernah disentuh kegelapan.
Dunia Cahaya.
LUMERIS.Tempat ia dilahirkan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai Seraphine—penjaga keseimbangan yang tak mengenal kematian.
Sampai malam itu.
Sampai keputusan itu.Lucan mengerang pelan. Rasa nyeri di dadanya kembali berdenyut. Ada sesuatu yang asing bersemayam di sana—detak… teratur… namun rapuh.
Jantung.
Ia membuka mata dengan susah payah. Langit malam terbentang kelam. Tak ada lapisan cahaya. Tak ada hukum surgawi yang membentang. Hanya awan hitam, bintang-bintang kecil, dan bulan yang pucat.
Dunia ini terasa sunyi.
Berat. Dan lebih gelap.Lucan mencoba bangkit. Telapak tangannya menekan pasir, namun tubuhnya justru ambruk kembali. Rasa sakit meledak di sekujur tubuhnya, memaksanya terengah.
Sejak kapan ia bisa merasa sakit seperti ini?
Di Lumeris, luka hanyalah distorsi cahaya. Rasa sakit hanyalah konsep.
Namun di sini—
“Uhuk…!”
Ia memuntahkan darah lagi. Tangannya refleks menekan dada, tepat di tempat cahaya biru pernah bersemayam. Kini hanya tersisa rasa perih dan denyut lemah.
“Ikatan… sigil itu…”
Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Takdir yang dipaksakan padanya.
Nama yang diucapkan di hadapan putra penguasa cahaya.Elyon.
Kakaknya.
Seraphine yang seharusnya jatuh… bukan dirinya. Setidaknya, itulah yang kini terus berputar di benaknya.
Lucan tertawa pelan—pahit, nyaris tidak percaya pada apa yang sedang terjadi.
“Jadi… sekarang aku akan tinggal di dunia manusia…” gumamnya.
Ombak menghantam kakinya, dingin dan nyata. Air laut meresap ke pakaiannya—bukan lagi jubah cahaya, melainkan kain hitam yang berat dan basah.
Ia menatap dirinya sendiri dengan mata kosong.
Tubuh itu—
Rapuh.
Lemah. Khas manusia.WIU-WIU-WIU
Di kejauhan, suara sirene samar terdengar. Cahaya lampu bergerak di sepanjang garis pantai. Dunia ini mungkin akan segera menyadari sesuatu telah jatuh… namun tidak siapa.
Lucan memejamkan mata, napasnya tersendat.
Ia telah menjatuhkan diri dari surga.
Dan di dunia manusia ini—
tak ada yang tahu siapa dirinya. tak ada yang peduli dari mana ia berasal. tak ada yang akan menyelamatkannya.Cahaya terakhir di tubuhnya berdenyut lemah… lalu padam sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya sejak ia tercipta—
Lucan merasakan sesuatu yang tak pernah ia kenal di Lumeris.
Takut.
Ia mengerutkan kening, lalu berdiri perlahan. Gerakannya refleks—naluriah—seperti yang selalu ia lakukan selama ratusan tahun sebagai Seraphine. Tanpa berpikir panjang, Lucan mencondongkan tubuh ke depan.
Ia melompat.
Dengan keyakinan bahwa cahaya akan menjawab panggilannya.
ZRAK!
Tidak ada sayap yang terbentang.
Tidak ada hembusan energi surgawi.Yang ada hanyalah tubuhnya sendiri—berat, tak seimbang—lalu ia jatuh ke tanah.
BRUUKK!!
“Aghhh!”
Punggungnya menghantam pasir dengan keras. Napasnya terhempas keluar, paru-parunya terasa diremas. Lucan menggeliat, refleks memegangi punggungnya yang berdenyut nyeri.
Rasa sakit itu nyata.
Bukan luka ilahi yang menutup dalam sekejap mata, melainkan rasa nyeri manusia yang begitu terasa nyata.
Lucan menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan erangan.
“Tidak bisa terbang…” gumamnya gemetar.
“Tidak bisa menyembuhkan luka… bahkan napasku terasa berat.” Ucapnya.Ia terduduk perlahan. Dadanya naik turun tak beraturan. Setiap tarikan napas terasa seperti beban, seolah udara di dunia ini terlalu padat bagi tubuhnya.
Pandangan Lucan jatuh ke genangan air di tepi pantai.
Ia menunduk.
Refleksi wajahnya terpantul samar. Wajah itu masih miliknya—garis rahang tegas, hidung mancung, rambut hitam yang kini terlihat acak. Namun matanya—
Lucan tertegun.
Mata yang dulu bercahaya biru kini berubah tak lagi ada cahaya.
Seperti manusia pada umumnya.
“Apakah aku…” suaranya nyaris tak terdengar.
Tangannya menyentuh pipinya—hangat. Turun ke dada.
“Manusia…?” bisiknya.
“Benarkah?”Duk. Duk. Duk.
Detakan jantungnya lemah namun teratur.
Perasaan asing menyelinap ke dadanya.
Namun di sela ketakutan itu, ada sesuatu yang lain.
Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi yang mengikatnya di altar suci lumeris.
Bebas.Angin laut kembali berhembus lembut, menyentuh wajah dan rambutnya—tanpa makna ilahi, tanpa perintah surgawi.
Hanya angin.
“Lumeris…” gumamnya lirih.
Ia menelan ludah, lalu tersenyum tipis—senyum pahit yang nyaris tak terlihat.
“Sepertinya… aku benar-benar jatuh.”
Lucan merebahkan tubuhnya di atas pasir. Dingin butirannya menempel di kulit, namun ia tidak lagi peduli. Langit malam di atasnya dipenuhi bintang kecil—bukan cahaya Seraphine, melainkan titik-titik hidup yang berkelip jauh di sana.
“Aku benar-benar…” napasnya tersendat.
“…bukan di Lumeris lagi.”Kelopak matanya terasa berat. Tubuhnya lelah—kelelahan yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Namun sebelum ia sempat terlelap—
KRRRUUUKKKK!
“Eh…?”
Lucan tersentak. Ia menunduk menatap perutnya sendiri, bingung.
“…Apa itu barusan?”
Rasa kosong itu semakin terasa. Ada perih aneh di lambungnya—bukan luka, bukan kehilangan energi cahaya.
Ini… sesuatu yang lain.
“Apa yang terjadi padaku sekarang…?”
Lucan memandang kesekeliling. Sepi. Sunyi.
Lucan bangkit perlahan dan melangkah menyusuri garis pantai. Pasir lembap menempel di telapak kakinya, meninggalkan jejak panjang di belakangnya.
Angin berhembus dingin. Mengacak rambut pendeknya.
“Uhuk…!”
Ia batuk kecil. Tak ada darah bercahaya. Tak ada nyeri menusuk.
Hanya udara malam yang dingin memenuhi paru-parunya.
Lucan berhenti, menatap laut gelap di hadapannya.
Dunia ini asing.
Namun entah kenapa… ia justru merasa hidup.
Dan tanpa ia sadari, untuk pertama kalinya sejak ia terlahir sebagai cahaya—
Lucan harus belajar bertahan.
Sebagai manusia.
“Kau pria brengsek! Tidak seharusnya aku bertemu denganmu… menyebalkan!”Suara Seira pecah di punggung Lucan.Tangannya yang lemas beberapa kali memukul bahu pria itu, meski tanpa tenaga. Kepalanya bersandar berat di punggung Lucan, napasnya berbau alkohol, suaranya bercampur tangis yang tertahan.Lucan tidak menjawab.Tidak membela diri.Tidak juga menenangkan.Ia hanya berjalan.Langkahnya tetap tegak, meski setiap pijakan terasa seperti menghantam tubuhnya sendiri. Dadanya berdenyut pelan—bukan lagi ledakan rasa sakit seperti sebelumnya, tapi sisa-sisa nyeri yang menetap, menusuk dari dalam.Kekuatan di dalam dirinya belum pulih.Masih ada.Namun melemah.Seperti cahaya yang mulai redup, nyaris padam.Sesekali Lucan mengernyit tanpa sadar. Napasnya tertahan sepersekian detik sebelum kembali normal. Keringat dingin masih membekas di pelipisnya, meski udara sore mulai dingin.Namun ia tetap berjalan.Menggendong Seira.“Kenapa… kenapa harus kau…” gumam Seira lirih di punggungnya.Sua
Lucan hendak berbalik, berniat mengejar Seira yang semakin menjauh dari pandangannya.Namun—“LUCAN!”Teriakan Mia menghentikan langkahnya.Lucan membeku di tempat.Tubuhnya yang sudah bergerak setengah langkah terpaksa berhenti. Dadanya kembali berdenyut tajam, seolah setiap gerakan kecil pun cukup untuk memicu rasa sakit yang masih bersarang di dalam tubuhnya.Ia menutup mata sesaat.Menahan.Lalu perlahan berbalik.Mia berjalan mendekat dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Wajahnya tenang, bahkan sedikit tersenyum.Ia meraih lengan Lucan dan menariknya hingga pria itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.Lucan tidak menepis tangan itu.“Kau mau mengejarnya dan berkata padanya kalau kau sangat mencintainya, begitu, hm?”Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung ejekan.Lucan diam sesaat.Tenaganya tidak sedang cukup untuk berdebat panjang.“Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap Lucan pelan.Suaranya serak.Mia mendengus kecil.“Lupakan saja! Ingat, k
Waktu berjalan sangat lambat. Setidaknya bagi Lucan.Pria itu masih berdiri di samping mobil Mia sejak pagi tadi. Tubuhnya tegap seperti biasa, bahunya lurus, wajahnya tetap tampan dan tenang. Siapa pun yang melihatnya mungkin hanya mengira ia sedang menunggu seseorang.Tidak ada yang tahu bahwa setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan baginya.Rasa sakit dari ritual semalam belum benar-benar hilang.Dadanya masih terasa seperti dibakar dari dalam. Sesekali Lucan mengernyit tipis. Hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil, menahan tubuhnya agar tidak goyah.Keringat dingin menetes di tengkuknya.Namun ia tetap berdiri.Tatapannya sesekali mengarah ke bangunan kampus.Seperti berharap seseorang akan keluar.Seira.Namun waktu terus berjalan. Pintu gedung itu tidak pernah mengeluarkan sosok yang ia tunggu.Di dalam kelas, Seira duduk diam memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. Matanya menatap
“Aghh…”Lucan menggeliat pelan.Rasa sakit itu belum pergi.Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama. Warna putih yang dingin. Aroma parfum Mia yang samar masih tertinggal di udara.Ia masih di apartemen itu.Dadanya telanjang. Kulitnya pucat. Garis otot di tubuhnya tetap tegas—bahkan dalam keadaan lemah, ia masih terlihat memikat. Namun di balik ketampanan itu, ada sesuatu yang retak.Tangannya mencengkeram sprei. Urat-urat di lengannya menegang saat ia memaksa diri bangkit.Dadanya berdenyut.Sigil itu tidak menyala lagi—tetapi rasa perihnya seperti masih terpatri di dalam daging.Lucan duduk perlahan. Kepalanya sedikit menunduk. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang pusing yang datang tiba-tiba.Napasnya belum stabil.Setiap tarikan terasa berat.Ia menurunkan kaki ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan dingin itu membuatnya sedikit tersadar, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.Tangannya meraba dinding, berpegangan saat melangkah keluar kamar.
Tidak lama kemudian, mobil Mia berhenti di depan salah satu gedung pencakar langit paling menjulang di Seoul. Kaca-kaca raksasa memantulkan langit pagi yang pucat, membuat bangunan itu tampak dingin sekaligus angkuh.Mia turun lebih dulu. Lucan menyusul dari sisi lain mobil.“Parkirkan mobilku,” uc
“Kau ini kenapa?” suara Seira bergetar saat menopang tubuh Lucan yang hampir limbung.“Wajahmu pucat sekali.”Lucan tidak langsung menjawab. Nafasnya berat, langkahnya tertatih, seolah setiap pijakan menguras sisa tenaga yang ia miliki.“Malam ini Kak Leo izin tidak pulang,” lanjut Seira sambil ter
Seira akhirnya menyerah dalam dekapan Lucan. Tubuhnya kaku di awal, lalu perlahan melembut—seolah ia berhenti melawan degup jantungnya sendiri. Pria di atasnya itu membuat napasnya kacau, detaknya berlari tanpa irama.Ia belum pernah berada sedekat ini dengan siapa pun. Jangankan berciuman—bergande
Perlahan, kabut di pandangan Lucan menghilang.Warna-warna kembali menemukan bentuknya. Cahaya tak lagi bergetar. Napasnya masih tersengal, namun kini nyata—berat, kasar, dan terasa sakit di dada.Pelukan Mia masih mengikat tubuhnya erat, seolah gadis itu takut jika ia melepaskannya, Lucan akan kem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews