Seira mempersilahkan Silas duduk di sofa.“Duduklah. Aku akan mengambilkan obat,” ucapnya cepat, lalu bergegas ke arah lemari.Silas menyandarkan tubuhnya, matanya menyapu setiap sudut rumah itu—sederhana, hangat, dan terlalu nyata, untuk tempat persembunyian seorang Seraphine buronan.ZZTTT—!!Lampu di ruang tamu berkedip sesaat.“Eh?” Seira menoleh ke langit-langit.“Kenapa lampunya?” gumamnya bingung, lalu menggeleng dan kembali membawa kotak obat.Lucan melangkah masuk sepenuhnya. Pintu tertutup di belakangnya. Tatapannya dingin, rahangnya mengeras.Silas mengangkat wajahnya—tatapan mereka bertemu.Senyum Silas tipis. Menantang.Seira duduk di hadapan Silas, membuka kotak obat. Jarinya terampil, lembut, menyentuh sudut bibir Silas yang masih memerah.“Aku tidak mengerti,” ucap Seira pelan sambil mengoleskan obat.“Kenapa Lucan selalu marah setiap melihatmu.”Lucan berdiri tepat di belakang mereka. Diam. Tegang.Silas tertawa kecil, seolah semua ini hanya kesalahpahaman ringan.“Ti
続きを読む