Mia duduk di samping Lucan, sementara Dea—ibu tirinya—mengambil tempat di kursi tengah penumpang belakang. Mobil melaju tenang di jalanan Seoul yang padat, namun suasana di dalamnya jauh dari kata biasa.Lucan fokus menyetir. Kedua tangannya mantap di setir, pandangannya lurus ke depan. Namun dari kaca spion tengah, bayangan Dea terus hadir—tak pernah benar-benar hilang. Tatapan wanita paruh baya itu tertuju padanya, tenang, tajam, seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar wajah.Sesekali, tanpa sadar, Lucan melirik ke arah spion.Pandangan mereka bertemu.Dan seperti sebelumnya, Dea tersenyum—senyum tipis yang penuh makna, terlalu lama untuk sekadar keramahan.Dada Lucan mengencang. Ada sesuatu yang ganjil. Tidak terlihat, tidak terdengar, namun terasa jelas. Kehadiran wanita itu membuatnya tidak nyaman, seolah ruang di dalam mobil menyempit setiap kali tatapan itu menempel padanya.“Lucan, aku senang sekali,” ucap Mia memecah keheningan, suaranya terdengar tul
Read more