Mia menahan napas di balik bayangan pilar. Jantungnya berdegup tak karuan, tapi kakinya memaksa untuk tetap diam. Dari celah sempit itu, matanya menangkap sosok Lucan—berdiri sendirian di tengah lingkaran pria-pria bertubuh besar, aura mereka berat, dingin, dan jelas bukan manusia biasa. Seraphine. Mia kini yakin.“Lepaskan Seira, Kak,” suara Lucan terdengar tenang, terlalu tenang untuk situasi sekejam ini.“Ini urusanmu denganku.” Imbuhnya.Elyon menyunggingkan senyum lebar, senyum yang tak menyentuh mata.“Tentu, Lucan. Aku akan melepaskannya… setelah aku mendapatkan apa yang kubutuhkan.”Kalimat itu diucapkan seolah janji, padahal terdengar seperti vonis.Tepuk tangan bergema—perlahan, terukur.Mia tersentak.Dari balik ruangan, seorang wanita melangkah keluar dengan anggun yang menusuk. Gaunnya jatuh sempurna, langkahnya mantap.Dea Lira.Darah Mia terasa membeku.“I-ibu…?” gumamnya nyaris tanpa suara.Dunia di hadapannya retak. Wanita yang selama ini ia panggil ibu—yang menata hi
Last Updated : 2026-02-03 Read more