Usai mengucapkan kalimat itu, Ethan menatapnya beberapa saat, lalu menyandarkan punggung ke bangku kayu taman. Membiarkan Celina larut dalam ketenangan alam. Angin yang bertiup lembut menyapu pelan rerumputan luas di hadapan mereka, membawa aroma tanah basah sehabis hujan tipis semalam.“Baiklah, kalau kau belum mau cerita, aku tak akan memaksa.”Celina menatap lurus ke depan. “Terima kasih.”“Meski begitu,” lanjut Ethan santai, “aku tetap berhak menilai jika seseorang telah membuat keputusan-keputusan buruk hingga kau terlihat sedih seperti ini.”Celina mendengus pelan. “Seperti apa maksudmu, Ethan?”“Seperti seseorang yang tidur kurang dari tiga jam, makan tidak teratur, dan menahan terlalu banyak hal sendirian.”Celina terdiam.Ethan meliriknya dari sudut mata. “Aku benar kan?”“Kenapa kau masih saja menyebalkan setelah bertahun-tahun?”“Karena bakat sejatiku memang mengusik orang.” sahut Ethan setengah mengerling.Celina tersenyum tipis, tapi hanya bertahan beberapa detik saja.
Read more