Freddy melangkah masuk ke dalam Vila.Dia menatap pemandangan yang sangat familiar itu.Baru beberapa hari berlalu, segalanya sudah terasa sangat berbeda.“Kakak Ipar, aku nggak apa-apa. Kamu nggak perlu khawatir.”Ujar Kenny dengan manis, sambil berusaha menyandarkan tubuh lemahnya untuk duduk.“Dasar gadis bodoh, masih sakit?”Freddy memeriksa kondisi tubuh Kenny. Setelah memastikan tidak ada masalah serius, dia pun menatap noda merah di dada Kenny dengan perasaan bersalah.“Nggak sakit sama sekali.”Kenny mengacungkan jempol mungilnya ke arah Freddy, “Kakak Ipar, aku hebat sekali, ‘kan?”Freddy menjawab dengan lembut, “Iya, hebat sekali!”“Sudahlah, nggak perlu sok peduli begitu! Kalau bukan karena kamu, Kenny nggak akan terluka!”Nia menunjuk Freddy, sambil memakinya, “Untung saja Kenny baik-baik saja. Kalau nggak, aku nggak akan memaafkanmu! Orang sepertimu harusnya mati saja, biar nggak mencelakai keluarga kami lagi!”Tatapan Freddy menjadi dingin.“Ibu, jangan bicara begitu pada
Baca selengkapnya