“Kau menilai dirimu terlalu tinggi, anak muda.” Suara Nara terdengar rendah, berat, dan kali ini tidak lagi meledak tanpa arah. Amarahnya masih ada, tetapi sudah dipadatkan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Tatapannya tajam, mengunci Nathan tanpa sedikit pun bergeser, seolah seluruh dunia di sekitarnya sudah tidak lagi penting. Di hadapannya, Nathan berdiri tanpa perubahan. Tenang. Tatapannya stabil, napasnya teratur, dan pedang hitam di tangannya masih diselimuti petir biru yang bergerak perlahan, seperti makhluk hidup yang sepenuhnya tunduk pada kehendaknya. “Kalau itu yang kau lihat,” jawab Nathan santai, “berarti kau masih belum memahami situasimu.” Kalimat itu jatuh ringan, tetapi cukup untuk membuat otot wajah Nara menegang. Tanpa peringatan, tanah di bawah kaki Nara retak. Sosoknya menghilang. Ledakan suara menyusul sepersekian detik kemudian saat ia muncul tepat di hadapan Nathan, pedangnya turun dengan tekanan yang cukup untuk membelah tanah. Benturan
Baca selengkapnya