Ruangan itu kembali sunyi setelah ucapan Dylan menggantung di udara. Hanya ada tiga orang di dalamnya, namun tekanan yang terasa seolah memenuhi seluruh ruang hingga sulit untuk bernapas lega. Nathan menarik napas pelan. Kali ini tidak ada ketenangan penuh seperti sebelumnya, hanya kejujuran yang ia pilih untuk tidak lagi disembunyikan. “Aku harus jujur,” ucapnya akhirnya. Dylan menatapnya tanpa memotong, sementara Irish masih menunduk, tangannya saling bertaut di pangkuan, wajahnya belum berani menghadap langsung. “Aku sudah menikah dengan seorang gadis bernama Ravina,” lanjut Nathan tanpa ragu. “Dan selain itu… aku juga memiliki hubungan dengan beberapa wanita lain dari dimensiku.” Ia berhenti sejenak, lalu menyebutkan satu per satu tanpa berusaha menutupi apa pun. “Rania, Nasha, Mila, Alana, Alena, Chelyna, Laqisha, dan Maggie.” Begitu nama-nama itu keluar, ruangan terasa semakin hening. Dylan tidak langsung bereaksi. Ia hanya terdiam cukup lama, seolah sedang menim
Read more