Kesadaran Karina kembali perlahan, diikuti oleh Clarisa yang membuka matanya dengan napas masih belum stabil. Keduanya terbaring di permukaan hangat yang asing, bukan tanah dingin atau medan pertempuran seperti yang terakhir mereka ingat. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam, membiarkan kesadaran mereka kembali utuh sambil mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Karina mengernyit, lalu perlahan bangkit. Tangannya menyentuh dadanya sendiri, memastikan detak jantung itu nyata. “Kita… masih hidup?” suaranya lirih, seolah takut jawaban yang ia terima akan menghancurkan harapan yang baru saja muncul. Ia bangkit... menoleh sekeliling. Di sampingnya, Clarisa juga duduk perlahan. Tatapannya kosong sesaat sebelum berubah, dipenuhi kebingungan yang sama. “Aku… mengingat sesuatu,” gumamnya, suaranya sedikit bergetar. Fragmen-fragmen ingatan mulai bermunculan, tidak utuh, tetapi cukup jelas untuk membuat napas mereka tertahan. Dua sosok pria muncul dalam bayangan itu, mendekati mer
Mehr lesen