Langkah Alicia terasa semakin berat ketika Luna berhenti tepat di depan pintu kamar itu.Pintu besar berwarna gelap. Tertutup rapat.Di baliknya—ada pria yang sejak awal membuat dadanya terasa tidak nyaman, bahkan sebelum mereka benar-benar bertemu.“Tenangkan dirimu,” bisik Alicia pada diri sendiri.Ia menarik napas dalam-dalam, meski jantungnya berdebar cepat. Telapak tangannya dingin, jemarinya sedikit bergetar. Namun wajahnya tetap ia jaga, senyum tipis, sikap sopan, dan profesionalisme yang tidak boleh runtuh.Luna mengetuk pintu.Satu kali.Dua kali.Tidak ada jawaban.Luna mengetuk lebih keras. “Devan.”Beberapa detik kemudian, terdengar suara berat dari dalam. Datar. Dingin.“Iya mi?”Luna membuka pintu tanpa menunggu izin.Alicia melangkah masuk dan…membeku.Devan terbaring di atas ranjang besar, setengah bersandar dengan satu kaki tertutup selimut tebal. Wajahnya pucat, rahangnya tegang, dan matanya menatap Alicia lurus.Tajam.Menghakimi.Seolah sedang menilai musuh, bukan
Last Updated : 2025-12-13 Read more