Tangan Marvin masih menahan pergelangan Intan, tapi tekanan itu tidak bertahan lama. Seolah sadar dengan apa yang ia lakukan, ia sedikit mengendurkan cengkeramannya.Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh perempuan licik itu.Intan menarik tangannya pelan, bukan dengan gerakan kasar, melainkan seperti seseorang yang mencoba menjaga keseimbangan. Langkahnya mundur setengah, lalu tubuhnya sedikit goyah, seakan kehilangan pijakan.“Pelan… Marvin,” ucapnya lirih, napasnya terdengar sedikit tidak beraturan.Marvin mengernyit, refleks bergerak maju untuk menahan sebelum benar-benar jatuh. Tangannya terangkat, nyaris tanpa pikir panjang, mencoba memastikan Intan tetap berdiri.Namun justru di situlah semuanya berubah arah.Intan tidak sepenuhnya menjauh. Jebakannya terjadi begitu mulus sampai Marvin tak menyadarinya.Alih-alih, ia membiarkan tubuhnya condong ke depan, cukup untuk membuat jarak di antara mereka nyaris hilang. Satu langkah Marvin ke depan membuat keduanya berpindah posisi dan
Read more