Oliver datang dengan tergesa. Ruangan Marvin sudah terlihat, dan saat ia masuk, yang didapatinya adalah sosok tinggi besar tengah bergelung di sofa lebar ruangan itu.Devan tengah mengotak-atik entah apa di komputer Marvin, ia mendongak begitu mendengar pintu terbuka.“Oh, udah dateng? Periksa gih. Demamnya tinggi banget,” ujar Devan dengan santai.Oliver pun mendekat, ia memeriksa beberapa bagian tubuh Marvin dengan seksama.“Empat puluh koma… sial. Ini yang lo sebut cuma kecapekan? Kayaknya demamnya udah dari Italia deh. Ini kalo bayi atau anak kecil, udah kejang-kejang kali,” omel Oliver yang dengan cepat tanggap memasang infus di tangan Marvin.Devan meringis.Memang saat ia pegang tadi terasa cukup panas, tapi tidak menyangka sudah separah itu.“Setelah infusnya habis, bawa pulang aja. Nggak bisa kalau di sini, sofanya kurang nyaman buat pasien.”Devan mengangguk saja. Daripada ke
Read more