LOGINMarvin berdiri tanpa melepaskan Felly dari tubuhnya.Felly seolah kapas yang sangat ringan dan dengan mudahnya diangkat oleh Marvin. Tubuh itu diletakkan di atas meja yang tak ada barang di atasnya.Felly sempat memekik kaget, tapi sebelum bisa teriak, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Marvin dalam ciuman yang lembut namun penuh dengan tuntutan.Napas keduanya terengah, tangan Marvin mengelus punggung Felly sementara Felly mengalungkan kedua tangannya di leher Marvin.Kakinya terbuka, membiarkan Marvin melangkah maju, berdiri di antara kakinya tanpa berkata apa-apa.Tatapan mereka bertemu. Dan entah siapa yang memulai, bibir mereka kembali berpagut dan bergulat bebas.Keduanya sama-sama saling menuntut, seolah saling meminta lebih.Marvin kembali bergerak maju hingga benar-benar tidak ada jarak di antara keduanya.Selatannya yang sudah berdiri tegak menusuk Felly hingga membuat perempuan itu terkejut.“M-mas sudah keras,” bisiknya di sela-sela ciumannya.Marvin menjilat bibirnya, la
Felly masih belum bergerak dari posisinya. Kepalanya tetap bersandar di dada Marvin, seolah itu sudah jadi tempat paling aman di rumah itu.Felly hanya diam, membiarkan pikirannya masih tertinggal pada percakapan tadi pagi. Tentang besok. Tentang Marvin yang akan pergi. Tapi di sini, di dada itu, semuanya terasa seperti bisa ditunda sedikit lebih lama.Suara detak jantung Marvin terdengar pelan di telinganya.Stabil.Teratur.Terlalu menenangkan sampai membuatnya tidak ingin melepaskan diri.Marvin akhirnya mengubah posisinya. Ia angkat dengan ringan tubuh Felly ala koala, lalu ia duduk di kursi dan membiarkan Felly duduk di pangkuannya sambil bersandar pada dada bidangnya. Satu tangannya masih memeluk pinggang Felly, sementara tangan lainnya sudah kembali ke laptop di meja kerja.Namun kali ini, fokusnya jelas tidak sepenuhnya di layar.Felly mengangkat sedikit wajahnya, mengintip ke arah Marvin dari bawah.“Mas kerja terus ya?”Sebenarnya pertanyaan itu bukan benar-benar tentang ker
Hiruk pikuk pagi menyapa, Felly terbangun dengan badan yang lebih segar. Semalam, setelah menonton film yang membuat Marvin mengeluarkan ceramah panjangnya—yang untungnya berakhir dengan baik karena mereka semakin terbuka satu sama lain mengenai cara berpikir mereka—Felly tertidur di sofa dan berakhir digendong Marvin untuk tidur di ranjang agar lebih nyaman.Setelah membuka mata sepenuhnya, Felly menoleh ke samping.Marvin sudah tidak ada di sisinya, bahkan jejaknya pun sudah dingin—sepertinya sudah cukup lama ditinggalkan.Felly memulai hari dengan rutinitasnya. Mencuci muka, menggosok gigi, dan berganti pakaian agar lebih nyaman.Setelahnya keluar dari kamar dan mencari keberadaan Marvin.Beberapa titik rumah ia telusuri, sampai kemudian di sebuah ruangan dengan pintu berwarna cokelat tua yang sedikit terbuka, samar ia melihat Marvin tengah duduk di kursi kerja dan menjawab telepon dari seseorang yang tak ia ketahui.“Besok saya pulang. Tolong diurus dulu semuanya. Ya, jangan sampa
Film terus berjalan.Namun sekarang, perhatian Felly sudah terbagi dua.Sebagian pada layar.Sebagian lagi pada pria yang duduk di sampingnya.Di layar televisi, pertengkaran antara kedua tokoh utama masih berlangsung.Tokoh pria bersikeras bahwa semua yang ia lakukan adalah demi kebaikan wanita tersebut.Ia sudah mencarikan tempat tinggal.Menyelesaikan masalah keuangan.Mengatur berbagai hal yang menurutnya perlu diatur.Namun wanita itu tetap marah.Tetap menolak.Tetap merasa hidupnya diambil alih.“Aku kalau jadi dia juga marah sih,” gumam Felly pelan.“Hm.”“Kok bisa ya dia nggak ngerti?”“Karena dia terlalu sibuk mendengarkan dirinya sendiri.”Felly menoleh.“Bukan karena dia sayang?”“Justru karena itu.”“Hah?”Marvin menyandarkan kepalanya ke sofa.
Felly berkedip beberapa kali.“Bermasalah?”“Perasaan baru muncul lima belas menit.”“Kadang lima belas menit sudah cukup.”“Mas ini kalau jadi juri acara pencarian bakat pasti dibenci peserta.”Marvin terkekeh kecil.“Untung saya tidak tertarik menjadi juri.”“Kasihan amat orangnya.”“Orangnya bahkan tidak nyata.”“Itu bukan poinnya.”Marvin memilih tidak menanggapi.Perhatiannya kembali tertuju ke layar televisi.Sementara film terus berjalan.Tokoh utama wanita akhirnya mendapat porsi cerita yang lebih banyak.Seorang mahasiswi.Hidup sederhana.Bekerja sambilan.Tidak memiliki banyak orang untuk diandalkan.Felly mengangguk-angguk kecil.“Kasihan juga.”“Hm.”Beberapa menit kemudian, tokoh pria kembali muncul.
Marvin merasa dirinya mungkin akan menyesali ide itu beberapa menit lagi.Dan melihat senyum Felly yang semakin lebar, keyakinan itu perlahan bertambah.“Apa?” tanyanya akhirnya.Felly tidak langsung menjawab.Wanita itu justru menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat sebelum menunjuk ke arah televisi yang berdiri di seberang ruang keluarga.“Mas lihat itu nggak?”Marvin mengikuti arah telunjuknya.“Televisi.”“Iya.”“Saya tahu itu televisi.”“Bagus.”Marvin menatapnya datar.“Terima kasih atas informasinya.”Felly terkikik pelan.Mood-nya yang tadi sempat turun karena bosan kini tampak pulih sepenuhnya.Dan entah mengapa, hal itu justru membuat Marvin semakin waspada.Biasanya semakin bahagia Felly terlihat, semakin besar kemungkinan dirinya akan terseret ke dalam sesuatu.“Lalu
“FELLYYYYYY!”Aduh, kuping Felly rasanya hampir pecah mendengar teriakan Gista di koridor kampus. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, rasanya malu karena Gista menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.“Jangan teriak-teriak ih, malu!” tegur Felly.Gista hanya menyengir kuda, lalu menggande
“Felly?” Marvin memanggil, memastikan wanitanya ini tidak tertidur.“Hm?” jawab Felly dengan gumaman seadanya.“Jangan pakai ‘saya’.”Felly mendongak, menatap Marvin dengan bingung. “Maksudnya?”“Kamu … ketika berbicara pada saya sebagai suami istri, jangan gunakan kata ganti ‘saya’, pakai ‘aku’ sa
Felly duduk di pinggir ranjang dengan jantung berdegup kencang. Padahal sudah sering bercumbu mesra dengan Marvin, tapi ketika sudah sah menikah begini, kenapa rasanya tidak jelas begini?Marvin sedang membersihkan diri di kamar mandi, guyuran air yang terdengar menambah debaran di jantungnya.Ckle
Marvin membuka pintu apartemennya. Masih terang, namun sepi sekali. Sepatu yang Felly gunakan tadi pagi juga sudah berada di lemari sepatu samping pintu. Menandakan gadis itu—ah, atau bisa ia sebut sebagai istrinya?—telah pulang.Ia melangkahkan kaki, memindai seisi apartemen yang rapi, tidak ada m







