Kantor yayasan siang itu tampak sibuk seperti biasa, namun ada satu hal yang sangat kontras dari sang pemilik ruangan. Marvin duduk di balik meja kerjanya yang luas, mengenakan kemeja lengan panjang yang lengannya dilipat sampai siku. Alih-alih memasang ekspresi dingin yang biasanya sukses membuat orang lain segan, pria itu justru tengah menatap layar ponselnya dengan sudut bibir yang tertarik membentuk senyum tipis—pemandangan langka yang seketika menghentikan langkah Devan begitu sahabatnya itu melangkah masuk tanpa mengetuk pintu.Devan, yang datang dengan pakaian kasual rapi, langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Marvin dengan santai."Lagi kesambet apa lo, Vin? Baru masuk aja gue udah lihat lo senyum-senyum sendiri kayak orang ilang," celetuk Devan santai. "Mana ekspresi dingin lo yang biasa pasang kalau lagi di kantor? Ketinggalan di Roma?"Marvin berdehem pelan. Cepat-cepat ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja, berusaha memasang kembali ekspresi dat
続きを読む