Lobi mall sore menjelang malam itu mulai ramai. Orang-orang keluar membawa belanjaan, antre di jalur taksi, dan berkutat dengan ponsel masing-masing. Amara berdiri di tengah antrean, menenteng tas-tas belanjanya erat-erat seperti takut bisa kehilangan kesempatannya buat glow up.Tumitnya kembali protes.“Aduh… tahan dikit lagi ya, dear kaki indahku.” Amara tercekat sendiri saat ia menyebut kakinya indah, tiba-tiba teringat pada ucapan iseng pria asing yang memuji kakinya tadi.“Kita sudah survive dari sushi, masa kalah sama lantai marmer,” gumamnya sambil mengganti tumpuan kaki.Saat kakinya mulai mengeluh lagi, sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di halaman lobi. Pintu depan terbuka.Pak Kadi, sopir pribadi keluarga Sanjaya, keluar dengan baju safarinya yang rapi seperti biasa, rambut klimis, dan wajah ala butler yang level kesetiaannya mengalahkan bodyguard drakor.Sopir itu menghampiri Amara.“Nona Amara,” sapanya seraya menunduk sopan. “Biar saya yang bawa.”Pak Kadi langsu
آخر تحديث : 2025-12-07 اقرأ المزيد