Amara membantu si pelayan yang keseleo itu. Ia melirik papan namanya yang bertuliskan: Iman.“Ayo, Man. Coba berdiri,” katanya, sambil memegangi lengannya.Iman berdiri dengan sedikit terpincang. “Cepat… bantu si Iman jalan ke belakang. Sebentar lagi Tuan Muda mau sarapan,” kata Roni, si asisten koki. Amara segera memapah Iman, membiarkan lengan si pelayan itu menekan pundaknya. Roni membantu menyokong dari sisi lain.Kaki Iman masih gemetar, wajahnya pucat menahan sakit. “Pelan dong… Sakit, euy! Kamu tukang pijat gadungan, ya? Kok masih sakit, nih?” protesnya sambil melirik Amara sinis.Amara menghela napas panjang, mencoba tetap sabar. “Kalau nggak segera ditangani, bakal lebih parah. Setelah ini, kita kaki kompres kakimu.” Iman mendengus. “Awas aja kalau kamu tadi sampai salah pijat! Kalau ternyata malah tambah cedera, kamu harus tanggung semua biaya pengobatan saya sampai sembuh.” Amara memutar bola mata. “Bocah tengik nggak tau diri,” umpatnya dalam hati. Rasanya ia ingin p
Última actualización : 2025-12-01 Leer más